menengadah melihat bintang sambil memeluk kakinya
'Hei, ada apa?' tanyaku
'Kumiko.. kapan semua ini akan berakhir?' tanyanya tanpa mengalihkan pandangannya.
Aku tersenyum dan duduk di dekatnya. 'Aku tak tau' kataku.
Ku dengar ia menghela napas panjang.
'Aku lelah' katanya.
'Aku tau, aku pun merasakannya. Kau tentu menyadarinya kan?' tanyaku. Dia tak menjawab hanya menganggukkan kepalanya.
'Apa kau akan berhenti?' tanyaku ragu. Dia menghela napas lagi. 'Entahlah' katanya
'Sudah hampir setahun, tapi bahkan aku tak tahu ujungnya' katanya. 'Apakah semua ini akan sia-sia?' tanyanya lagi sambil memandangku.
Aku terdiam, cukup lama. Dia mengalihkan pandangannya, 'mungkin benar, semua ini hanya sia-sia' katanya
'Mengapa kau berkata seperti itu? bukankah selama ini kau cukup optimis?' tanyaku 'kau tak boleh berhenti seperti ini, justru jika kau berhenti semua hanya akan sia-sia' kataku
'Lalu apa yang harus aku lakukan? hanya bayangan yang mampu ku harapkan, tak lebih, apa kau masih menganggap ini nyata? Semuanya semu !' katanya berang.
Aku mendengarnya terisak. Ku rasakan perih dalam dadaku, seperti yang di rasakannya.
'Semua ini semu. Aku lelah berharap pada bayangan semata. Aku lelah menggapai bayangan. Bayangan yang tak akan sanggup aku genggam. Jangankan menggenggam, memandangnya pun aku tak bisa.' katanya dalam isak.
Air mata turut mengalir dari mataku, hanya air mata tanpa isak. Jantungku berdegup kencang. Dadaku serasa terhimpit. Aku rasakan penderitaan yang dia rasakan saat ini.
Berharap bayangan yang bahkan aku sendiri tak tau dia hanya bayangan atau nantinya akan berubah menjadi sebuah kenyataan.