apa semua ini benar ?
ku tanya pada sanubariku
apa benar ruang ini tak lagi hampa ?
sanubariku terbungkam
dia tak tahu harus berkata apa
bisu, lidahnya kelu
pelangi kecilku menari
sinarnya indah bertabur gemerlap bintang
menari mengitariku
dia menarikku dan berbisik
'malaikat kecil itu telah menancapkan panahnya padamu
dia kini menunggu untuk menancapkan pada pangeranmu'
aku terbungkam, membisu
jadi ini yang selama ini terjadi
getaran yang menjalar
menyeruak ke dalam sanubariku
mengisi kekosongan ruang ini
aku bertanya pada sanubariku
'apa ini ? inikah cinta ? sayang ? atau hanya kagum ?'
sanubariku tersenyum
tertatih berjalan menghampiriku
'biarkan sang waktu yang menjawab
kau akan tahu apa yang sebenarnya kau rasa'
aku tersenyum
rasa ini ku genggam erat
tak kan ku biarkan hilang
sampai sang waktu merenggutnya
Buku Bintang, buku sejuta kisah. Suka, duka, tawa, canda, air mata, amarah, benci, cinta semua tertuang dalam sebuah memori. Memori yang terekam dalam benak, tertuang dalam goresan pena di sebuah kertas putih. Terkumpul menjadi satu dalam sebuah Buku Bintang
10 Februari 2014
Unknown Title
kuntum bunga asmara mekar
tumbuh dalam sanubari
aku bahagia memilikimu
saat itu
sampai prahara itu datang
dan bunga yang tertanam hancur sudah
aku terseok, aku tertatih
seakan semua duniaku sirna
pelangiku hitam, kelam
aku coba bangkit berdiri
berjalan meskipun terseok
mencoba berlari meskipun tertatih
aku menangis dalam diam
aku merintih dalam tawa
aku menjerit dalam isakku
sebuah tangan terulur padaku
mengangkatku, memapahku
mengusap peluh dan bulir air mataku
dia tersenyum padaku dan berbisik
"Kamu adalah wanita terkuat yang pernah ku temui,
dia akan menyesal karena terlalu takut untuk memelukmu"
sosok indah itu mendekapku dalam peluknya
aku menjerit dalam peluknya, aku terisak dalam genggamannya
Setahun berlalu sudah
senyum dan canda kembali merekah di bibir ini
pelangiku kembali indah
memancarkan warna-warna cerianya
bintang-bintangku kembali bersinar
seiring senyum yang terukir
sebuah tangan menyentuhku
memalingkan wajahku
saat ku lihat sosok yang menyentuhku
ku merasa bagai badai petir menyerangku
ku tarik paksa bibir ini agar tersenyum
senyum dan suara khas yang dulu sempat membuaiku kembali hadir
suara itu berbisik padaku
mengucapkan sejuta kata maaf karena merusak pelangiku
sorot mata yang menampakkan sesal dan derita yang begitu dalam
ku tersenyum dan berbisik
jangan menangis, aku baik-baik saja
sekali lagi dia mencoba masuk
menerobos tiap celah di hatiku
namun tidak bisa
dia menatapku penuh tanya
aku tersenyum dan berkata
maaf, ruang ini telah terisi
aku tak lagi bisa menempatkanmu di dalamnya
carilah ruang yang lain
hanya satu pintaku
jangan pernah takut memperjuangkan cintamu
perjuangkanlah selagi masih bisa
sebelum dia terlalu lelah dan menyerah untuk berjuang
tumbuh dalam sanubari
aku bahagia memilikimu
saat itu
sampai prahara itu datang
dan bunga yang tertanam hancur sudah
aku terseok, aku tertatih
seakan semua duniaku sirna
pelangiku hitam, kelam
aku coba bangkit berdiri
berjalan meskipun terseok
mencoba berlari meskipun tertatih
aku menangis dalam diam
aku merintih dalam tawa
aku menjerit dalam isakku
sebuah tangan terulur padaku
mengangkatku, memapahku
mengusap peluh dan bulir air mataku
dia tersenyum padaku dan berbisik
"Kamu adalah wanita terkuat yang pernah ku temui,
dia akan menyesal karena terlalu takut untuk memelukmu"
sosok indah itu mendekapku dalam peluknya
aku menjerit dalam peluknya, aku terisak dalam genggamannya
Setahun berlalu sudah
senyum dan canda kembali merekah di bibir ini
pelangiku kembali indah
memancarkan warna-warna cerianya
bintang-bintangku kembali bersinar
seiring senyum yang terukir
sebuah tangan menyentuhku
memalingkan wajahku
saat ku lihat sosok yang menyentuhku
ku merasa bagai badai petir menyerangku
ku tarik paksa bibir ini agar tersenyum
senyum dan suara khas yang dulu sempat membuaiku kembali hadir
suara itu berbisik padaku
mengucapkan sejuta kata maaf karena merusak pelangiku
sorot mata yang menampakkan sesal dan derita yang begitu dalam
ku tersenyum dan berbisik
jangan menangis, aku baik-baik saja
sekali lagi dia mencoba masuk
menerobos tiap celah di hatiku
namun tidak bisa
dia menatapku penuh tanya
aku tersenyum dan berkata
maaf, ruang ini telah terisi
aku tak lagi bisa menempatkanmu di dalamnya
carilah ruang yang lain
hanya satu pintaku
jangan pernah takut memperjuangkan cintamu
perjuangkanlah selagi masih bisa
sebelum dia terlalu lelah dan menyerah untuk berjuang
Langganan:
Komentar (Atom)