Halaman

10 Februari 2014

Unknown Title

kuntum bunga asmara mekar
tumbuh dalam sanubari
aku bahagia memilikimu
saat itu
sampai prahara itu datang
dan bunga yang tertanam hancur sudah
aku terseok, aku tertatih
seakan semua duniaku sirna
pelangiku hitam, kelam

aku coba bangkit berdiri
berjalan meskipun terseok
mencoba berlari meskipun tertatih
aku menangis dalam diam
aku merintih dalam tawa
aku menjerit dalam isakku

sebuah tangan terulur padaku
mengangkatku, memapahku
mengusap peluh dan bulir air mataku
dia tersenyum padaku dan berbisik
"Kamu adalah wanita terkuat yang pernah ku temui,
dia akan menyesal karena terlalu takut untuk memelukmu"
sosok indah itu mendekapku dalam peluknya
aku menjerit dalam peluknya, aku terisak dalam genggamannya

Setahun berlalu sudah
senyum dan canda kembali merekah di bibir ini
pelangiku kembali indah
memancarkan warna-warna cerianya
bintang-bintangku kembali bersinar
seiring senyum yang terukir

sebuah tangan menyentuhku
memalingkan wajahku
saat ku lihat sosok yang menyentuhku
ku merasa bagai badai petir menyerangku
ku tarik paksa bibir ini agar tersenyum
senyum dan suara khas yang dulu sempat membuaiku kembali hadir
suara itu berbisik padaku
mengucapkan sejuta kata maaf karena merusak pelangiku
sorot mata yang menampakkan sesal dan derita yang begitu dalam
ku tersenyum dan berbisik
jangan menangis, aku baik-baik saja

sekali lagi dia mencoba masuk
menerobos tiap celah di hatiku
namun tidak bisa
dia menatapku penuh tanya
aku tersenyum dan berkata
maaf, ruang ini telah terisi
aku tak lagi bisa menempatkanmu di dalamnya
carilah ruang yang lain
hanya satu pintaku
jangan pernah takut memperjuangkan cintamu
perjuangkanlah selagi masih bisa
sebelum dia terlalu lelah dan menyerah untuk berjuang