Halaman

21 Juni 2013

Teruntuk Kamu

Senja datang menghampiri
gulitanya hiasi permadani langit
birunya tenggelam ditelan hitam
bintang tersenyum hiasi langit
kerlipnya terangi malam
bertabur indah bagaikan kunang-kunang
Indah nian malam ini
namun tak seindah hati ini
sendu menyelimuti, meluap tak terbendung
namun,
semua seakan hilang begitu saja
begitu kudengar suaramu, melayang di udara
senyum tersungging dari bibirku
hati terlonjak bahagia begitu menerima pesan darimu
tak kurasa sendiri lagi
belum pernah ku menatap wajahmu
melihat senyummu, tawamu
namun langit malam seakan melukiskan semuanya
belum pernah kurasakan hangatnya dirimu
namun angin seakan membawa hangatnya dirimu
kau tak ada di sampingku
tapi ku rasa hadirnya dirimu di sisiku
terima kasihku untukmu
sahabat penaku
malaikat tanpa sayapku

13 Juni 2013

Antares Tania yang Hilang - Part 2 -

Pukul 08.00 WIB, Rumah Keluarga Hadiprawiro
KRIINNGG !
Bi Ipah berlari kecil menuju telepon yang berdering.
“Halo, dengan kediaman keluarga Hadiprawiro di sini”
Bi Ipah terdiam sejenak mendengarkan suara orang berbicara di seberang sana. Tiba-tiba raut mukanya berubah.
“Ada apa, Bi? Kok bibi terkejut?” tanya Mama Tania.
“Ini, Bu, ini.. non Tania.. non Tania.. dia.. dia” jawab Bi Ipah terbata-bata.
“Kenapa, Bi? Tania kenapa?” mendadak wajah Mama Tania panik, dia menerima telepon yang diberikan Bi Ipah.
Wanita itu mendengarkan orang yang sedang berbicara dengannya di seberang sana. Wajahnya terkejut, tangannya menutup mulutnya. Air matannya mengalir.
“Iya, Mang. Iya, terima kasih. Kami akan segera ke sana. Mang Kus jangan pergi ke mana-mana” Katanya sambil terisak, lalu menutup telepon. Tangannya gemetar.
“Ada apa, Ma? Bi? Ko kalian menangis?” tanya Papa Tania heran.
“Tania Pa, Tania... Tania.. dia kecelakaan, dia tertabrak mobil, dan sekarang dia di rumah sakit” jawab wanita itu sambil menangis di pelukan suaminya. Pria itu terkejut.
“Di mana, Ma? Di mana Tania sekarang?” tanya pria itu cepat.
“Dia di rumah sakit Elisabeth, Pa. Mang Kus yang bawa Tania ke sana” katanya sambil terisak.
“Ayo kita ke sana sekarang, ayo Bi” kata pria itu sambil membimbing istrinya diikuti Bi Ipah menuju mobil dan bergegas menuju rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, mereka langsung menuju ke Unit Gawat Darurat. Mereka melihat Mang Kus terduduk lemas di kursi depan kamar Tania.
“Mang Kus! Bagaimana keadaan Tania Mang?” tanya Mama Tania cepat.
“Anu nyonya, non Tania sedang diperiksa dokter, keadaannya parah nyonya. Dokter meminta saya berdoa dan menunggu hasilnya” kata Mang Kus sambil tertunduk.
Seketika tangis terdengar menggema di lorong itu. Papa Tania memeluk istrinya dan menenangkannya. Bi Ipah berdiri di sebelah Mang Kus juga menangis. Tak lama pintu ruang UGD terbuka, dokter yang merawat Tania keluar selesai memeriksa keadaan Tania.
“Bagaimana dok, bagaimana keadaan anak saya dok?” tanya Mama Tania.
“Anak Bapak dan Ibu mengalami cedera yang cukup parah di bagian kepala akibat benturan yang di alaminya, saya khawatir benturan itu menyebabkan gegar otak yang cukup serius. Dan bisa saja membuat dia mengalami amnesia. Selain itu ada retak kecil di tulang kakinya. Untuk sementara anak Bapak dan Ibu akan kami pindahkan ke ruang ICU untuk penanganan yang lebih intensif” kata Dokter.
Seketika suara tangis kembali memenuhi lorong. Papa Tania berusaha tegar dan menenangkan istrinya yang menangis histeris. Sementara Mang Kus coba menenangkan Bi Ipah.

Pukul 11.00 WIB di Kediaman Keluarga Hardjoloekito
Sayup-sayup terdengar alunan musik dan suara seorang gadis dari arah lantai dua. Amel sedang bersantai di dalam kamarnya sambil bernyanyi mengikuti alunan lagu. Suara musik cukup keras sehingga dia tak mendengar handphonenya berdering. Stelah beberapa kali berdering barulah Amel mendengar suara dering HPnya, segera dia mematikan DVDnya dan meraih HP yang tergeletak di tempat tidur.
“Halo” sapa Amel pada orang yang menghubunginya.
“Amel, ini tante Mel, mamanya Tania” terdengar suara dari seberang sana.
“Oh tante, ada apa, Tan?” tanya Amel
“Tante minta kamu ke rumah sakit Elisabeth sekarang bisa? Tania kecelakaan, sekarang dia di ICU, dia koma” terdengar suara isak tangis Mama Tania.
Amel terkejut bukan main. Tubuhnya terasa kaku seketika setelah dia mendengar kabar buruk tentang sahabat yang paling dia sayangi itu.
“I..iya Tan. Amel ke sana sekarang”
Bergegas dia mengambil kunci mobil dan dompetnya yang tergeletak di meja belajarnya. Berlari dia menuju mobil dan segera menuju rumah sakit. Amel langsung menuju ruang ICU begitu dia sampai di rumah sakit. Dia melihat Mang Kus dan Bi Ipah di luar ruangan.
“Mang Kus, Bi Ipah, gimana Tania? Di mana dia, Bi?” tanya Amel panik.
“Non Tania ada di dalem, ada Ibu dan Bapak juga. Non Amel masuk saja” kata Mang Kus.
Perlahan Tania masuk. Perlahan dia mendekati ranjangrumah sakit tempat Tania terbaring. Tangannya terkatup di mulutnya. Dia melihat selang oksigen, selang infus di tubuh Tania, juga monitor detak jantung yang memonitor laju detak jantung Tania. Seketika air matanya mengalir. Mama dan Papa Tania tersenyum melihat kedatangannya.
Tania keluar dari ruangan, dan duduk di sebelah Bi Ipah. Dia menangis sejadinya. Spontan Bi Ipah memeluk sahabat nona mudanya itu.
“Tenang non Amel, tenang” kata Bi Ipah sambil terisak.
“Sebenarnya ada apa, Bi? Apa yang terjadi pada Tania sampai dia harus mengalami ini semua?” tanya Amel di sela-sela tangisnya.
“Bibi gak tau non, Mang Kus yang ada di sana, Mang Kus yang bawa non Tania ke rumah sakit.” Jawab Bi Ipah. Amel mengarahkan pendangannya ke Mang Kus dengan pandangan bertanya.
“Iya non. Mang nganter non Tania ke rumah Den Dika” dan mengalirlah cerita dari mulut Mang Kus tentang kejadian tadi pagi.
Rahang Amel mengeras, tangannya mengepal menahan emosinya yang siap meledak.
“Dika brengsek! Sialan tuh orang, aku harus temui dia!” kata Amel dan berdiri hendak pergi, namun tangan Mang Kus mencegahnya.
“Tenang non, non Amel gak bisa nemuin Den Dika, dia sudah berangkat ke Amerika, Non.” Kata Mang Kus.
“Terus Amel harus gimana Mang? Amel harus ngeliat Tania terbaring koma di ICU sementara Dika senang-senang di negeri orang gitu? Amel gak bisa Mang, Tania sahabat Amel, Amel gak sanggup liat dia dalam keadaan kayak gini” kata Amel sambil menangis.
“Non Amel, ini Mang Kus ambil dari genggaman tangan non Tania setelah kecelakaan. Mang gak tau ini apa, tapi sepertinya ini berharga banget buat non Tania” kata Mang Kus sambil menyerahkan benda itu.
“Antares.” Kata Amel pelan, perlahan air matanya makin deras mengalir.

Antares Tania yang Hilang - Part 1 -

Mentari pancarkan senyumnya, langit berwarna biru cerah, menambah cerahnya hari ini. Seorang gadis sudah sibuk di dapur sejak pagi tadi, dia tampak mempersiapkan sesuatu  seperti bekal. Dengan dibantu Bi Ipah yang sudah lama bekerja pada keluarga mereka. Tania nama gadis itu, dengan cekatan dan tampak seperti seorang ahli membuat sandwich.
Begitu bekal jadi, Tania bergegas masuk ke kamar untuk bersiap, tak ada yang tahu apa yang direncanakan gadis itu di hari Minggu ini. Tak lama gadis itu sudah keluar kamar dengan gaya seperti orang yang hendak pergi jalan-jalan. Senyum selalu muncul di wajah manisnya, memperlihatkan lesung pipi di kedua sudut bibirnya.
“Wah, pagi-pagi begini kamu kok udah rapi begini sih sayang? Cantik, wangi lagi. Mau ke mana hayo?” tanya mamanya yang baru saja keluar kamar.
“Mau tau aja sih mama, rahasia” katanya sambil tertawa.
“Jadi gitu, mulai main rahasia nih sama papa mama?” sahut papanya tiba-tiba.
“Ih papa juga mau tau aja deh, pokoknya rahasia” katanya sambil nyengir.
“Dasar kamu, ya sudah, tapi kamu perginya hati-hati ya” kata papa sambil menyentil hidungnya
“Iya Pa, udah ah Tania mau pergi dulu, daaahh Papa, Mama” katanya sambil mengecup pipi Papa Mamanya
Tania keluar menuju mobilnya, Mang Kus, supirnya telah siap mengantar nona mudanya itu. Mobil meluncur menyusuri jalanan Semarang pagi hari, Tania menikmati pemandangan yang di lewatinya.
Namun pemandangan yang dilihat Tania berikutnya sama sekali di luar bayangan dan yang tak pernah dia pikirkan. Sesaat sebelum sampai ke tempat tujuannya, dia melihat seorang lelaki berjalan dengan tangannya memegang koper, di belakangnya sepasang suami istri mengikutinya, juga membawa koper. Tania melesat keluar dari mobil dan berlari.
“Dikaaa!” teriaknya memanggil laki-laki itu.
“Tania? Tan, ngapain kamu di sini?” tanyanya terkejut.
“Aku yang harusnya tanya kamu, ada apa ini? Kamu mau ke mana? Dan kenapa bawa koper?” tanya Tania bingung, perasaannya tidak enak, hatinya tak tenang.
“Aku harus pergi Tan, aku akan ke Amerika. Aku harus pindah ke sana”, kata Dika sambil tertunduk.
“Apa? Amerika? Dika, kenapa kamu gak pernah cerita? Kenapa begitu mendadak?” berondong Tania.
“Ma.. maaf, aku juga gak tau, ayah dipindah kerjakan ke sana, dan harus secepatnya pindah, maafin aku, Tan” kata Dika sambil tertunduk.
“Tapi kenapa harus secepat ini? Tapi kamu balik ke sini kan? Iya kan? Dik?” sambar Tania cepat, tak terasa air matanya mengalir.
“Tan, maaf, aku juga gak tau kapan akan balik ke Semarang lagi, Tan, maafin aku, aku bener-bener minta maaf” jawab Dika sambil memeluk Tania.
“Kamu jahat Dik, kamu ninggalin aku. Kamu ingkarin janji kamu buat gak ninggalin aku Dik, kamu jahat!” kata Tania sambil terisak.
“Dika, ayo nak. Nanti kita ketinggalan pesawat” kata Bunda Dika.
Dika melepaskan pelukannya dan mengecup kening Tania. Tangannya terulur memberikan sesuatu pada Tania. Bola kaca yang indah. Terdapat ratusan bintang dan sebuah bintang yang paling terang di dalamnya. Dika berbalik dan melangkah menuju mobil. Tak terasa air matanya menetes, cepat dia mengusapnya. Dia tak mau Tania melihatnya. Dika masuk ke mobil yang akan membawanya ke bandara. Mobil melaju perlahan.
Tania terpaku menatap bola kaca itu di tangannya. Antares, batin Tania. Air matanya mengalir makin deras, dia melihat mobil itu makin menjauh. Tania segera mengejarnya
“Dikaaa ! Dikaaa, jangan tinggalin aku Dikaa!” teriak Tania sambil mengejar mobil yang dinaiki keluarga Dika. Tanpa sadar tangannya masih membawa kotak bekal berisi sandwich dan bola kaca pemberian kekasihnya itu.
Tania berlari mengejar mobil itu. Namun tanpa gadis itu sadari, dari arah kanan ada mobil melaju dengan kencangnya.
TIINN TIIIINNN !!! bunyi klakson mobil tersebut. Tania menoleh dan terkejut.
“Aaaaaaa” terdengar jerit pilu seorang gadis
BRUUKK !
             Terlambat. Bagian muka mobil dengan cepat menyambar tubuh Tania. Badannya tersungkur. Darah mengalir dari kepalanya yang membentur aspal. Kotak bekal yang di bawanya terpental dan membuat sandwich yang dibuatnya berceceran di jalan. Juga bola kaca yang indah tadi hancur berkeping-keping. Hanya satu yang tertinggal di tangan Tania. Antares.

6 Juni 2013

Mata Hati Seorang Saksi

ada apa dgn kalian ?
saling memendam
tanpa biarkan mereka tau apa yg sbnrnya kalian rasa
kalian memiliki rasa yang satu
aku tau itu
berdua tak bisa selamanya memendam
terkurung dalam rasa yang tak terungkap
menahan pedihnya rindu yang tertahan
sampai kapan ?
kalian tak tau kapan sang waktu akan tiba
yang akan memaksa kalian keluar dari pedihnya rindu
dan ungkapkan rasa yang ada
kalian satu rasa, aku tau itu
hanya saja seorang dari kalian masi terkubur dalam kenangan
dan biarkan dirinya terhisap dalam kenangan
tarik dia keluar
sebelum pusaran menariknya semakin kuat
jadikan rasa itu sebagai kekuatan kalian untuk bersatu melawan waktu
rasa kalian yang satu
cinta , ya cinta
yang terpendam jauh di lubuk hati kalian berdua

by : Inez

4 Juni 2013

A Piece of Word ?

kesabaran itu tanpa batas
yang membatasi kesabaran itu adalah ego masing-masing pribadi

jangan menilai orang dari satu sisi
karena apa yang kita lihat belum tentu sesuai kenyataan yang ada

jika kamu ingin dunia menerimamu apa adanya
terimalah dirimu sendiri apapun keadaannya

benahilah dirimu sendiri
sebelum kamu melangkah membenahi dunia

sabar itu tak berbalas
orang yang sabar tak punya niat menyakiti orang yang sudah menyakiti kita

jadilah seperti kerang
dia dilukai berulang kali, disakiti
namun dia menghasilkan sebuah mutiara yang indah

2 Juni 2013

Kataku Untukmu

kau datang padaku dengan senyum manis
seakan-akan aku ini berharga bagimu
ku sambut kau dengan senyum
dengan sepenuh hati
kita bersenda gurau, berbagi tawa dan canda
kau buat hidupku berwarna

namun
kau hancurkan kebahagiaan itu dalam sekejap
kau hempaskan aku ke dasar jurang
hati ini sakit, hancur tak terbentuk
namun kau tak menyadari semua yang ku rasakan

aku menghilang, namun kau tak juga mencariku
aku pergi, menyendiri untuk menata hatiku yang hancur
tapi aku tak tau, mengapa aku selalu bisa memaafkanmu
mungkinkah ini karena cinta?

waktu terus berlalu, perlahan ingatan tentangmu tak lagi mengusikku
hatiku merasa damai, meskipun masih tersisa sesak di dada
namun tak kupedulikan rasa itu

di saat hati ini tenang, kau hadir kembali
mengusik hatiku, membuka kembali memori yang ku kubur
kau berikan lagi tawa itu, senyum itu
dan kau juga berikan lagi luka itu

aku mengutuk kelemahanku sendiri
yang tak mampu menolakmu ketika kau datang kembali
yang tak mampu mengusir bayang-bayangmu
aku mengutuk diriku sendiri
yang masih mencintaimu
meskipun hanya luka yang kau beri

berulang kali kau selalu begitu
kau datang, lalu pergi begitu saja
kau katakan pada dunia kau mencintaiku
dan duniapun mengatakan padaku
angin berbisik lembut, menyampaikan kata cintamu
burung-burung bernyanyi, seolah melagukan nada-nada cinta

namun itu semua hanya kebohongan semata
kau berkata pada dunia bahwa kau mencintaiku
namun kau tak pernah mengatakannya padaku
kau mengatakannya pada makhluk indah lain
tak taukah kau betapa sakitnya aku?
betapa dalamnya luka yang telah kau gores?

dan kini kau seolah menyalahkanku
kau berkata pada dunia bahwa kau mencintaiku
tapi tak ada balasan dariku
lalu apa arti perhatianku selama ini bagimu?
apa arti marahku? apa arti cemburuku selama ini?

kini kau telah bersama dengan yang lain
ku terima dengan senyum
aku tak tau mengapa hati ini selalu bisa memaafkanmu
selalu jika kau menyakitiku

bahagialah dengannya, jangan pedulikan aku
jangan pernah lepaskan dia, karena aku yakin dialah yang terbaik untukmu
yang mampu memberikan apa yang kau butuhkan
tak hanya kasih sayang
namun juga seseorang yang mengerti isi hatimu tanpa kau harus mengatakannya

satu yang kau perlu tau
aku akan tetap di sini
mencintaimu, selalu
meskipun kau tak akan pernah menyadarinya

         by : Inez

Kata Hati Sang Cinta

Ketika fisik berbicara
Cinta bertanya pada Sang Empunya, "masihkah aku diharapkan?"
Sang Empunya hanya tersenyum dan menatapnya iba

Ketika harta berbicara
Cinta bertanya pada Sang Empunya, "masihkah aku diperlukan?"
Sang Empunya hanya tersenyum dan menatapnya iba

Ketika jabatan berbicara
Cinta bertanya pada Sang Empunya, "masihkah aku diinginkan?"
Sang Empunya hanya tersenyum dan menatapnya iba

Ketika Cinta tergantikan oleh kemewahan dunia
Cinta bertanya pada Sang Empunya, "masihkah aku di butuhkan?"
Sang Empunya menatap lembut pada Cinta dan berkata,
"Kau masih dibutuhkan oleh semua makhluk di bumi, manusia masih memerlukanmu, karena tidak ada kehidupan tanpa dirimu"
"Tapi mengapa mereka mengabaikanku dan menganggap seolah-olah aku tidak berharga?" Cinta bertanya pada Sang Empunya dan terisak
Sang Empunya tersenyum dan berkata,
"Akan ada saatnya mereka menyadari betapa berharganya dirimu, dan mereka akan menyadari mereka tak bisa hidup tanpa dirimu"

                            by : Inez