Pukul 08.00 WIB, Rumah Keluarga Hadiprawiro
KRIINNGG !
Bi Ipah berlari kecil menuju
telepon yang berdering.
“Halo, dengan kediaman keluarga
Hadiprawiro di sini”
Bi Ipah terdiam sejenak
mendengarkan suara orang berbicara di seberang sana. Tiba-tiba raut mukanya
berubah.
“Ada apa, Bi? Kok bibi terkejut?”
tanya Mama Tania.
“Ini, Bu, ini.. non Tania.. non
Tania.. dia.. dia” jawab Bi Ipah terbata-bata.
“Kenapa, Bi? Tania kenapa?”
mendadak wajah Mama Tania panik, dia menerima telepon yang diberikan Bi Ipah.
Wanita itu mendengarkan orang yang
sedang berbicara dengannya di seberang sana. Wajahnya terkejut, tangannya
menutup mulutnya. Air matannya mengalir.
“Iya, Mang. Iya, terima kasih. Kami
akan segera ke sana. Mang Kus jangan pergi ke mana-mana” Katanya sambil
terisak, lalu menutup telepon. Tangannya gemetar.
“Ada apa, Ma? Bi? Ko kalian
menangis?” tanya Papa Tania heran.
“Tania Pa, Tania... Tania.. dia
kecelakaan, dia tertabrak mobil, dan sekarang dia di rumah sakit” jawab wanita
itu sambil menangis di pelukan suaminya. Pria itu terkejut.
“Di mana, Ma? Di mana Tania
sekarang?” tanya pria itu cepat.
“Dia di rumah sakit Elisabeth, Pa.
Mang Kus yang bawa Tania ke sana” katanya sambil terisak.
“Ayo kita ke sana sekarang, ayo Bi”
kata pria itu sambil membimbing istrinya diikuti Bi Ipah menuju mobil dan
bergegas menuju rumah sakit.
Sesampainya
di rumah sakit, mereka langsung menuju ke Unit Gawat Darurat. Mereka melihat
Mang Kus terduduk lemas di kursi depan kamar Tania.
“Mang Kus! Bagaimana keadaan Tania
Mang?” tanya Mama Tania cepat.
“Anu nyonya, non Tania sedang
diperiksa dokter, keadaannya parah nyonya. Dokter meminta saya berdoa dan
menunggu hasilnya” kata Mang Kus sambil tertunduk.
Seketika
tangis terdengar menggema di lorong itu. Papa Tania memeluk istrinya dan
menenangkannya. Bi Ipah berdiri di sebelah Mang Kus juga menangis. Tak lama
pintu ruang UGD terbuka, dokter yang merawat Tania keluar selesai memeriksa
keadaan Tania.
“Bagaimana dok, bagaimana keadaan
anak saya dok?” tanya Mama Tania.
“Anak Bapak dan Ibu mengalami
cedera yang cukup parah di bagian kepala akibat benturan yang di alaminya, saya
khawatir benturan itu menyebabkan gegar otak yang cukup serius. Dan bisa saja
membuat dia mengalami amnesia. Selain itu ada retak kecil di tulang kakinya. Untuk
sementara anak Bapak dan Ibu akan kami pindahkan ke ruang ICU untuk penanganan
yang lebih intensif” kata Dokter.
Seketika suara tangis kembali
memenuhi lorong. Papa Tania berusaha tegar dan menenangkan istrinya yang
menangis histeris. Sementara Mang Kus coba menenangkan Bi Ipah.
Pukul 11.00 WIB di Kediaman
Keluarga Hardjoloekito
Sayup-sayup
terdengar alunan musik dan suara seorang gadis dari arah lantai dua. Amel
sedang bersantai di dalam kamarnya sambil bernyanyi mengikuti alunan lagu.
Suara musik cukup keras sehingga dia tak mendengar handphonenya berdering.
Stelah beberapa kali berdering barulah Amel mendengar suara dering HPnya,
segera dia mematikan DVDnya dan meraih HP yang tergeletak di tempat tidur.
“Halo” sapa Amel pada orang yang
menghubunginya.
“Amel, ini tante Mel, mamanya Tania”
terdengar suara dari seberang sana.
“Oh tante, ada apa, Tan?” tanya
Amel
“Tante minta kamu ke rumah sakit
Elisabeth sekarang bisa? Tania kecelakaan, sekarang dia di ICU, dia koma” terdengar
suara isak tangis Mama Tania.
Amel terkejut bukan main. Tubuhnya
terasa kaku seketika setelah dia mendengar kabar buruk tentang sahabat yang
paling dia sayangi itu.
“I..iya Tan. Amel ke sana sekarang”
Bergegas
dia mengambil kunci mobil dan dompetnya yang tergeletak di meja belajarnya.
Berlari dia menuju mobil dan segera menuju rumah sakit. Amel langsung menuju
ruang ICU begitu dia sampai di rumah sakit. Dia melihat Mang Kus dan Bi Ipah di
luar ruangan.
“Mang Kus, Bi Ipah, gimana Tania? Di
mana dia, Bi?” tanya Amel panik.
“Non Tania ada di dalem, ada Ibu
dan Bapak juga. Non Amel masuk saja” kata Mang Kus.
Perlahan Tania masuk. Perlahan dia
mendekati ranjangrumah sakit tempat Tania terbaring. Tangannya terkatup di
mulutnya. Dia melihat selang oksigen, selang infus di tubuh Tania, juga monitor
detak jantung yang memonitor laju detak jantung Tania. Seketika air matanya
mengalir. Mama dan Papa Tania tersenyum melihat kedatangannya.
Tania
keluar dari ruangan, dan duduk di sebelah Bi Ipah. Dia menangis sejadinya.
Spontan Bi Ipah memeluk sahabat nona mudanya itu.
“Tenang non Amel, tenang” kata Bi
Ipah sambil terisak.
“Sebenarnya ada apa, Bi? Apa yang
terjadi pada Tania sampai dia harus mengalami ini semua?” tanya Amel di
sela-sela tangisnya.
“Bibi gak tau non, Mang Kus yang
ada di sana, Mang Kus yang bawa non Tania ke rumah sakit.” Jawab Bi Ipah. Amel
mengarahkan pendangannya ke Mang Kus dengan pandangan bertanya.
“Iya non. Mang nganter non Tania ke
rumah Den Dika” dan mengalirlah cerita dari mulut Mang Kus tentang kejadian
tadi pagi.
Rahang Amel mengeras, tangannya
mengepal menahan emosinya yang siap meledak.
“Dika brengsek! Sialan tuh orang,
aku harus temui dia!” kata Amel dan berdiri hendak pergi, namun tangan Mang Kus
mencegahnya.
“Tenang non, non Amel gak bisa
nemuin Den Dika, dia sudah berangkat ke Amerika, Non.” Kata Mang Kus.
“Terus Amel harus gimana Mang? Amel
harus ngeliat Tania terbaring koma di ICU sementara Dika senang-senang di
negeri orang gitu? Amel gak bisa Mang, Tania sahabat Amel, Amel gak sanggup
liat dia dalam keadaan kayak gini” kata Amel sambil menangis.
“Non Amel, ini Mang Kus ambil dari
genggaman tangan non Tania setelah kecelakaan. Mang gak tau ini apa, tapi
sepertinya ini berharga banget buat non Tania” kata Mang Kus sambil menyerahkan
benda itu.
“Antares.” Kata Amel pelan,
perlahan air matanya makin deras mengalir.