Halaman

13 Juni 2013

Antares Tania yang Hilang - Part 2 -

Pukul 08.00 WIB, Rumah Keluarga Hadiprawiro
KRIINNGG !
Bi Ipah berlari kecil menuju telepon yang berdering.
“Halo, dengan kediaman keluarga Hadiprawiro di sini”
Bi Ipah terdiam sejenak mendengarkan suara orang berbicara di seberang sana. Tiba-tiba raut mukanya berubah.
“Ada apa, Bi? Kok bibi terkejut?” tanya Mama Tania.
“Ini, Bu, ini.. non Tania.. non Tania.. dia.. dia” jawab Bi Ipah terbata-bata.
“Kenapa, Bi? Tania kenapa?” mendadak wajah Mama Tania panik, dia menerima telepon yang diberikan Bi Ipah.
Wanita itu mendengarkan orang yang sedang berbicara dengannya di seberang sana. Wajahnya terkejut, tangannya menutup mulutnya. Air matannya mengalir.
“Iya, Mang. Iya, terima kasih. Kami akan segera ke sana. Mang Kus jangan pergi ke mana-mana” Katanya sambil terisak, lalu menutup telepon. Tangannya gemetar.
“Ada apa, Ma? Bi? Ko kalian menangis?” tanya Papa Tania heran.
“Tania Pa, Tania... Tania.. dia kecelakaan, dia tertabrak mobil, dan sekarang dia di rumah sakit” jawab wanita itu sambil menangis di pelukan suaminya. Pria itu terkejut.
“Di mana, Ma? Di mana Tania sekarang?” tanya pria itu cepat.
“Dia di rumah sakit Elisabeth, Pa. Mang Kus yang bawa Tania ke sana” katanya sambil terisak.
“Ayo kita ke sana sekarang, ayo Bi” kata pria itu sambil membimbing istrinya diikuti Bi Ipah menuju mobil dan bergegas menuju rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, mereka langsung menuju ke Unit Gawat Darurat. Mereka melihat Mang Kus terduduk lemas di kursi depan kamar Tania.
“Mang Kus! Bagaimana keadaan Tania Mang?” tanya Mama Tania cepat.
“Anu nyonya, non Tania sedang diperiksa dokter, keadaannya parah nyonya. Dokter meminta saya berdoa dan menunggu hasilnya” kata Mang Kus sambil tertunduk.
Seketika tangis terdengar menggema di lorong itu. Papa Tania memeluk istrinya dan menenangkannya. Bi Ipah berdiri di sebelah Mang Kus juga menangis. Tak lama pintu ruang UGD terbuka, dokter yang merawat Tania keluar selesai memeriksa keadaan Tania.
“Bagaimana dok, bagaimana keadaan anak saya dok?” tanya Mama Tania.
“Anak Bapak dan Ibu mengalami cedera yang cukup parah di bagian kepala akibat benturan yang di alaminya, saya khawatir benturan itu menyebabkan gegar otak yang cukup serius. Dan bisa saja membuat dia mengalami amnesia. Selain itu ada retak kecil di tulang kakinya. Untuk sementara anak Bapak dan Ibu akan kami pindahkan ke ruang ICU untuk penanganan yang lebih intensif” kata Dokter.
Seketika suara tangis kembali memenuhi lorong. Papa Tania berusaha tegar dan menenangkan istrinya yang menangis histeris. Sementara Mang Kus coba menenangkan Bi Ipah.

Pukul 11.00 WIB di Kediaman Keluarga Hardjoloekito
Sayup-sayup terdengar alunan musik dan suara seorang gadis dari arah lantai dua. Amel sedang bersantai di dalam kamarnya sambil bernyanyi mengikuti alunan lagu. Suara musik cukup keras sehingga dia tak mendengar handphonenya berdering. Stelah beberapa kali berdering barulah Amel mendengar suara dering HPnya, segera dia mematikan DVDnya dan meraih HP yang tergeletak di tempat tidur.
“Halo” sapa Amel pada orang yang menghubunginya.
“Amel, ini tante Mel, mamanya Tania” terdengar suara dari seberang sana.
“Oh tante, ada apa, Tan?” tanya Amel
“Tante minta kamu ke rumah sakit Elisabeth sekarang bisa? Tania kecelakaan, sekarang dia di ICU, dia koma” terdengar suara isak tangis Mama Tania.
Amel terkejut bukan main. Tubuhnya terasa kaku seketika setelah dia mendengar kabar buruk tentang sahabat yang paling dia sayangi itu.
“I..iya Tan. Amel ke sana sekarang”
Bergegas dia mengambil kunci mobil dan dompetnya yang tergeletak di meja belajarnya. Berlari dia menuju mobil dan segera menuju rumah sakit. Amel langsung menuju ruang ICU begitu dia sampai di rumah sakit. Dia melihat Mang Kus dan Bi Ipah di luar ruangan.
“Mang Kus, Bi Ipah, gimana Tania? Di mana dia, Bi?” tanya Amel panik.
“Non Tania ada di dalem, ada Ibu dan Bapak juga. Non Amel masuk saja” kata Mang Kus.
Perlahan Tania masuk. Perlahan dia mendekati ranjangrumah sakit tempat Tania terbaring. Tangannya terkatup di mulutnya. Dia melihat selang oksigen, selang infus di tubuh Tania, juga monitor detak jantung yang memonitor laju detak jantung Tania. Seketika air matanya mengalir. Mama dan Papa Tania tersenyum melihat kedatangannya.
Tania keluar dari ruangan, dan duduk di sebelah Bi Ipah. Dia menangis sejadinya. Spontan Bi Ipah memeluk sahabat nona mudanya itu.
“Tenang non Amel, tenang” kata Bi Ipah sambil terisak.
“Sebenarnya ada apa, Bi? Apa yang terjadi pada Tania sampai dia harus mengalami ini semua?” tanya Amel di sela-sela tangisnya.
“Bibi gak tau non, Mang Kus yang ada di sana, Mang Kus yang bawa non Tania ke rumah sakit.” Jawab Bi Ipah. Amel mengarahkan pendangannya ke Mang Kus dengan pandangan bertanya.
“Iya non. Mang nganter non Tania ke rumah Den Dika” dan mengalirlah cerita dari mulut Mang Kus tentang kejadian tadi pagi.
Rahang Amel mengeras, tangannya mengepal menahan emosinya yang siap meledak.
“Dika brengsek! Sialan tuh orang, aku harus temui dia!” kata Amel dan berdiri hendak pergi, namun tangan Mang Kus mencegahnya.
“Tenang non, non Amel gak bisa nemuin Den Dika, dia sudah berangkat ke Amerika, Non.” Kata Mang Kus.
“Terus Amel harus gimana Mang? Amel harus ngeliat Tania terbaring koma di ICU sementara Dika senang-senang di negeri orang gitu? Amel gak bisa Mang, Tania sahabat Amel, Amel gak sanggup liat dia dalam keadaan kayak gini” kata Amel sambil menangis.
“Non Amel, ini Mang Kus ambil dari genggaman tangan non Tania setelah kecelakaan. Mang gak tau ini apa, tapi sepertinya ini berharga banget buat non Tania” kata Mang Kus sambil menyerahkan benda itu.
“Antares.” Kata Amel pelan, perlahan air matanya makin deras mengalir.