Halaman

13 Juni 2013

Antares Tania yang Hilang - Part 1 -

Mentari pancarkan senyumnya, langit berwarna biru cerah, menambah cerahnya hari ini. Seorang gadis sudah sibuk di dapur sejak pagi tadi, dia tampak mempersiapkan sesuatu  seperti bekal. Dengan dibantu Bi Ipah yang sudah lama bekerja pada keluarga mereka. Tania nama gadis itu, dengan cekatan dan tampak seperti seorang ahli membuat sandwich.
Begitu bekal jadi, Tania bergegas masuk ke kamar untuk bersiap, tak ada yang tahu apa yang direncanakan gadis itu di hari Minggu ini. Tak lama gadis itu sudah keluar kamar dengan gaya seperti orang yang hendak pergi jalan-jalan. Senyum selalu muncul di wajah manisnya, memperlihatkan lesung pipi di kedua sudut bibirnya.
“Wah, pagi-pagi begini kamu kok udah rapi begini sih sayang? Cantik, wangi lagi. Mau ke mana hayo?” tanya mamanya yang baru saja keluar kamar.
“Mau tau aja sih mama, rahasia” katanya sambil tertawa.
“Jadi gitu, mulai main rahasia nih sama papa mama?” sahut papanya tiba-tiba.
“Ih papa juga mau tau aja deh, pokoknya rahasia” katanya sambil nyengir.
“Dasar kamu, ya sudah, tapi kamu perginya hati-hati ya” kata papa sambil menyentil hidungnya
“Iya Pa, udah ah Tania mau pergi dulu, daaahh Papa, Mama” katanya sambil mengecup pipi Papa Mamanya
Tania keluar menuju mobilnya, Mang Kus, supirnya telah siap mengantar nona mudanya itu. Mobil meluncur menyusuri jalanan Semarang pagi hari, Tania menikmati pemandangan yang di lewatinya.
Namun pemandangan yang dilihat Tania berikutnya sama sekali di luar bayangan dan yang tak pernah dia pikirkan. Sesaat sebelum sampai ke tempat tujuannya, dia melihat seorang lelaki berjalan dengan tangannya memegang koper, di belakangnya sepasang suami istri mengikutinya, juga membawa koper. Tania melesat keluar dari mobil dan berlari.
“Dikaaa!” teriaknya memanggil laki-laki itu.
“Tania? Tan, ngapain kamu di sini?” tanyanya terkejut.
“Aku yang harusnya tanya kamu, ada apa ini? Kamu mau ke mana? Dan kenapa bawa koper?” tanya Tania bingung, perasaannya tidak enak, hatinya tak tenang.
“Aku harus pergi Tan, aku akan ke Amerika. Aku harus pindah ke sana”, kata Dika sambil tertunduk.
“Apa? Amerika? Dika, kenapa kamu gak pernah cerita? Kenapa begitu mendadak?” berondong Tania.
“Ma.. maaf, aku juga gak tau, ayah dipindah kerjakan ke sana, dan harus secepatnya pindah, maafin aku, Tan” kata Dika sambil tertunduk.
“Tapi kenapa harus secepat ini? Tapi kamu balik ke sini kan? Iya kan? Dik?” sambar Tania cepat, tak terasa air matanya mengalir.
“Tan, maaf, aku juga gak tau kapan akan balik ke Semarang lagi, Tan, maafin aku, aku bener-bener minta maaf” jawab Dika sambil memeluk Tania.
“Kamu jahat Dik, kamu ninggalin aku. Kamu ingkarin janji kamu buat gak ninggalin aku Dik, kamu jahat!” kata Tania sambil terisak.
“Dika, ayo nak. Nanti kita ketinggalan pesawat” kata Bunda Dika.
Dika melepaskan pelukannya dan mengecup kening Tania. Tangannya terulur memberikan sesuatu pada Tania. Bola kaca yang indah. Terdapat ratusan bintang dan sebuah bintang yang paling terang di dalamnya. Dika berbalik dan melangkah menuju mobil. Tak terasa air matanya menetes, cepat dia mengusapnya. Dia tak mau Tania melihatnya. Dika masuk ke mobil yang akan membawanya ke bandara. Mobil melaju perlahan.
Tania terpaku menatap bola kaca itu di tangannya. Antares, batin Tania. Air matanya mengalir makin deras, dia melihat mobil itu makin menjauh. Tania segera mengejarnya
“Dikaaa ! Dikaaa, jangan tinggalin aku Dikaa!” teriak Tania sambil mengejar mobil yang dinaiki keluarga Dika. Tanpa sadar tangannya masih membawa kotak bekal berisi sandwich dan bola kaca pemberian kekasihnya itu.
Tania berlari mengejar mobil itu. Namun tanpa gadis itu sadari, dari arah kanan ada mobil melaju dengan kencangnya.
TIINN TIIIINNN !!! bunyi klakson mobil tersebut. Tania menoleh dan terkejut.
“Aaaaaaa” terdengar jerit pilu seorang gadis
BRUUKK !
             Terlambat. Bagian muka mobil dengan cepat menyambar tubuh Tania. Badannya tersungkur. Darah mengalir dari kepalanya yang membentur aspal. Kotak bekal yang di bawanya terpental dan membuat sandwich yang dibuatnya berceceran di jalan. Juga bola kaca yang indah tadi hancur berkeping-keping. Hanya satu yang tertinggal di tangan Tania. Antares.