Mentari pancarkan senyumnya, langit
berwarna biru cerah, menambah cerahnya hari ini. Seorang gadis sudah sibuk di
dapur sejak pagi tadi, dia tampak mempersiapkan sesuatu seperti bekal. Dengan dibantu Bi Ipah yang
sudah lama bekerja pada keluarga mereka. Tania nama gadis itu, dengan cekatan
dan tampak seperti seorang ahli membuat sandwich.
Begitu bekal jadi, Tania bergegas
masuk ke kamar untuk bersiap, tak ada yang tahu apa yang direncanakan gadis itu
di hari Minggu ini. Tak lama gadis itu sudah keluar kamar dengan gaya seperti
orang yang hendak pergi jalan-jalan. Senyum selalu muncul di wajah manisnya,
memperlihatkan lesung pipi di kedua sudut bibirnya.
“Wah, pagi-pagi begini kamu kok udah rapi begini sih sayang? Cantik,
wangi lagi. Mau ke mana hayo?” tanya mamanya yang baru saja keluar kamar.
“Mau tau aja sih mama, rahasia” katanya sambil tertawa.
“Jadi gitu, mulai main rahasia nih sama papa mama?” sahut
papanya tiba-tiba.
“Ih papa juga mau tau aja deh, pokoknya rahasia” katanya
sambil nyengir.
“Dasar kamu, ya sudah, tapi kamu perginya hati-hati ya” kata
papa sambil menyentil hidungnya
“Iya Pa, udah ah Tania mau pergi dulu, daaahh Papa, Mama”
katanya sambil mengecup pipi Papa Mamanya
Tania keluar menuju mobilnya, Mang
Kus, supirnya telah siap mengantar nona mudanya itu. Mobil meluncur menyusuri
jalanan Semarang pagi hari, Tania menikmati pemandangan yang di lewatinya.
Namun pemandangan yang dilihat
Tania berikutnya sama sekali di luar bayangan dan yang tak pernah dia pikirkan.
Sesaat sebelum sampai ke tempat tujuannya, dia melihat seorang lelaki berjalan
dengan tangannya memegang koper, di belakangnya sepasang suami istri
mengikutinya, juga membawa koper. Tania melesat keluar dari mobil dan berlari.
“Dikaaa!” teriaknya memanggil laki-laki itu.
“Tania? Tan, ngapain kamu di sini?” tanyanya terkejut.
“Aku yang harusnya tanya kamu, ada apa ini? Kamu mau ke mana?
Dan kenapa bawa koper?” tanya Tania bingung, perasaannya tidak enak, hatinya
tak tenang.
“Aku harus pergi Tan, aku akan ke Amerika. Aku harus pindah
ke sana”, kata Dika sambil tertunduk.
“Apa? Amerika? Dika, kenapa kamu gak pernah cerita? Kenapa begitu
mendadak?” berondong Tania.
“Ma.. maaf, aku juga gak tau, ayah dipindah kerjakan ke sana,
dan harus secepatnya pindah, maafin aku, Tan” kata Dika sambil tertunduk.
“Tapi kenapa harus secepat ini? Tapi kamu balik ke sini kan? Iya
kan? Dik?” sambar Tania cepat, tak terasa air matanya mengalir.
“Tan, maaf, aku juga gak tau kapan akan balik ke Semarang
lagi, Tan, maafin aku, aku bener-bener minta maaf” jawab Dika sambil memeluk
Tania.
“Kamu jahat Dik, kamu ninggalin aku. Kamu ingkarin janji kamu
buat gak ninggalin aku Dik, kamu jahat!” kata Tania sambil terisak.
“Dika, ayo nak. Nanti kita ketinggalan pesawat” kata Bunda
Dika.
Dika melepaskan pelukannya dan
mengecup kening Tania. Tangannya terulur memberikan sesuatu pada Tania. Bola kaca yang indah. Terdapat ratusan bintang dan sebuah bintang yang paling terang di dalamnya. Dika berbalik dan melangkah menuju mobil. Tak terasa air matanya menetes, cepat dia mengusapnya.
Dia tak mau Tania melihatnya. Dika masuk ke mobil yang akan membawanya ke
bandara. Mobil melaju perlahan.
Tania terpaku menatap bola kaca itu di tangannya. Antares, batin Tania. Air matanya mengalir makin deras, dia melihat mobil itu makin menjauh. Tania segera mengejarnya
“Dikaaa ! Dikaaa, jangan tinggalin aku Dikaa!” teriak Tania
sambil mengejar mobil yang dinaiki keluarga Dika. Tanpa sadar tangannya masih
membawa kotak bekal berisi sandwich dan bola kaca pemberian kekasihnya itu.
Tania berlari mengejar mobil itu.
Namun tanpa gadis itu sadari, dari arah kanan ada mobil melaju dengan
kencangnya.
TIINN TIIIINNN !!! bunyi klakson mobil tersebut. Tania
menoleh dan terkejut.
“Aaaaaaa” terdengar jerit pilu seorang gadis
BRUUKK !
Terlambat. Bagian muka mobil dengan
cepat menyambar tubuh Tania. Badannya tersungkur. Darah mengalir dari kepalanya
yang membentur aspal. Kotak bekal yang di bawanya terpental dan membuat
sandwich yang dibuatnya berceceran di jalan. Juga bola kaca yang indah tadi hancur berkeping-keping. Hanya satu yang tertinggal di tangan Tania. Antares.