Hari
mulai gelap, sang mentari beringsut di balik awan, sang purnama tersenyum
pancarkan kilaunya, bersama bintang mungil nan indah mereka menerangi malam bak
lilin di tengah kegelapan. Membuat damai setiap mata yang memandangnya.
Seorang
gadis termenung menatap langit dari jendela kamarnya. Lia, begitu orang-orang
memanggilnya. Dia termenung, entah memikirkan apa, pikirannya melayang enta ke
mana. Malam ini malam valentine, seharusnya dia berkumpul bersama keluarga dan
beberapa teman dekatnya untuk makan malam bersama, namun
enggan rasanya beranjak. Bukan malam yang menahannya, bukan malas, bukan pula kantuk. Namun sang bintang yang menahannya. Mengingatkannya pada seseorang yang pernah singgah di relung hatinya. Ega, ya Ega. Bintang membuatnya teringat pada kata terakhir Ega sebelum dia pergi, kata-kata yang dia ucapkan di tempat favorit mereka di bukit cahaya, sebelum Ega kembali pulang ke kotanya di Kebumen, Lia masih mengingatnya dengan jelas kata-kata itu “Suatu saat kalau aku pergi, kamu lihat ke langit, aku ada bersama bintang, aku akan selalu nemeni kamu, jadi cahaya kamu, dan aku gak akan ninggalin kamu”
enggan rasanya beranjak. Bukan malam yang menahannya, bukan malas, bukan pula kantuk. Namun sang bintang yang menahannya. Mengingatkannya pada seseorang yang pernah singgah di relung hatinya. Ega, ya Ega. Bintang membuatnya teringat pada kata terakhir Ega sebelum dia pergi, kata-kata yang dia ucapkan di tempat favorit mereka di bukit cahaya, sebelum Ega kembali pulang ke kotanya di Kebumen, Lia masih mengingatnya dengan jelas kata-kata itu “Suatu saat kalau aku pergi, kamu lihat ke langit, aku ada bersama bintang, aku akan selalu nemeni kamu, jadi cahaya kamu, dan aku gak akan ninggalin kamu”
Lia
menatap bola kristal yang dia pegang, pemberian Ega di hari ulang tahunnya yang
ke 19. Tak terasa setahun sudah Ega, laki-laki yang di cintainya pergi
meninggalkan dunia. Setahun pula hatinya terasa kosong. Bukan karena tak ada
laki-laki yang mau dengannya, tidak, justru banyak lelaki yang mencoba
mendekatinya, namun dia tolak dengan halus. Bukan dia tidak mau, jujur beberapa
dari mereka bisa membuat Lia nyaman, namun belum ada yang bisa menggantikan
posisi Ega. Bahkan beberapa memaksanya untuk membuang semua memori tentang Ega
hingga tak ada satu memori pun yang tersisa. Lia tak mau itu terjadi. Karena itu
sampai hari ini dia memutuskan untuk sendiri.
“Inget
kakak lagi ya?”, tanya Nina ketika melihat bola
kristal yang ada di genggaman Lia. Lia hanya tersenyum. Nina menghela napas dan
menghampiri Lia, memeluknya.
“Everything
will be okay”, bisik Nina sambil tersenyum
