Halaman

13 Februari 2013

Mawar Putih Untuk Lia - Part 4 -


Tanpa mereka sadari dua pasang mata menatap mereka dari balik jendela sambil tersenyum bahagia. Ray dan Nina tersenyum melihat adegan tersebut. Akhirnya ya Ray, Lia mau membuka hatinya, kata Nina di balas anggukan dan senyuman dari Ray. Nina tersenyum, mendadak sesuatu terlintas di otaknya. Dengan tiba-tiba dia menarik tangan Ray dan mengajaknya menuju ke gazebo tempat Lia dan Dicky berada. Hei, hei Nin, kamu mau ke mana?, tanya Ray terkejut karena tiba-tiba Nina menariknya. Nina tak menjawab petanyaan Ray. Haaiii !, teriak Nina mengagetkan Dicky dan Lia. Spontan mereka melepas pelukan mereka, dan Lia mengusap air matanya.
Kamu apa-apaan sih Nin, ngagetin aja, kata Lia
Ngagetin apa ngagetin? Hahaha, maaf deh kalo ganggu, kata Nina jail.
        Nina berjalan menghampiri Lia dan memeluknya. Lia terkejut dengan tindakan Nina yang tiba-tiba memeluknya. Aku senang akhirnya kamu bisa membuka hati kamu, semoga dia memang orang yang tepat, bisik Nina. Lia hanya tersenyum dan memeluk Nina.
Ciee, Lia, duuhh akhirnya punya pacar juga setelah setahun ngejomblo, kata Conny yang tiba-tiba datang. Semua hanya tertawa. Dicky dan Lia tersipu malu. pasangan baru, masih malu-malu kucing, celetuk Ray tiba-tiba. kamu apaan sih Ray, ternyata kamu bisa ngeledek juga yaa, kata Lia sambil pura-pura cemberut. Yang lain hanya tertawa menanggapinya.
Guys, aku punya satu permintaan, kata Dicky tiba-tiba. Semuanya saling pandang. Mereka bertanya-tanya.
Permintaan apa?, tanya Ray
Aku ingin mengunjungi makam Ega, aku ingin menyampaikan sesuatu padanya, kata Dicky. Tapi itu kalau kalian mau menemaniku, kalau tidak ya mungkin bisa lain kali, kata Dicky lagi. Semua tampak diam berpikir.
kamu mau ke sana kapan Dick?,tanya Conny. Secepatnya, sahut Dicky mantap. Lia hanya terdiam menatap Dicky. Apa maksud dia? tanyanya dalam hati. Dicky hanya tersenyum menatapnya.
Oke, bagaimana kalau besok? Rencana aku juga akan pulang ke Kebumen. Conny akan mengantarku sampai bandara. Naik pesawat sampai Jogja, kemudian naik mobil ke Kebumen, kata Ray.
Iya Dick, sekalian aja, gimana? Tapi aku dan Ray berangkat pagi, sahut Nina. Dicky terdiam, berpikir.
Oke, aku bisa, kata Dicky yakin. Kamu serius, Dick?, tanya Lia. Dicky mengangguk mantap. Oke, kalau gitu, aku ikut, sahut Lia. Aku juga, kata Conny tiba-tiba. Semua mengangguk dan tersenyum senang.