Lia menarik Nina menuju
teras depan begitu makan malam selesai. Sorot matanya meminta penjelasan atas
apa yang terjadi di rumahnya. Nina hanya tersenyum.“Li,
aku tau kamu sebenarnya mempunyai perasaan terhadap Dicky, tapi kamu hanya
takut, kamu masih takut untuk membuka hati. Li, kamu gak bisa terus-terusan
kayak gini, kamu harus terusin hidup kamu. Kakak pasti sedih kalau liat kamu
masih tetep kayak gini, karena itu aku sengaja ngundang si Dicky waktu aku tau
kalau dia sayang sama kamu” kata Nina
“Tapi
aku aku takut Nin, aku takut kalo dia sama seperti laki-laki lain yang menuntut
aku untuk ngebuang semua memori tentang Ega, kamu tau aku gak akan bisa
nglakuin itu”, kata Lia sambil terisak
“iya
Li, aku tau itu, tapi kita juga gak akan tau kebenarannya kalau kamu gak berani
mencoba, gak ada salahnya kamu memberi kesempatan Dicky untuk membuktikannya”,
kata Nina sambil memeluk Lia. “jujur sama hati
kamu, ikutin kata hati kamu, kalau kamu memang sayang Dicky, perjuangkan itu,
buka hati kamu. Aku nglakuin ini karena aku sayang kamu, Li. Aku ingin Lia yang
dulu kembali lagi”, kata Nina lagi. “sekarang
hapus air mata kamu, dan temui Dicky, dia ada di gazebo taman belakang”,
kata Nina sambil mengusap air mata Lia. Lia mengangguk dan tersenyum. “Thanks
Nina”, kata Lia. “anytime”, balas Nina sembari tersenyum.
Lia berjalan menuju gazebo taman
belakang seperti yang di beritahukan Nina, benar saja Dicky menanti di situ.
Dia duduk seperti menanti sesuatu. Mungkin seseorang lebih tepatnya. Lia
menghampiri Dicky yang termenung.
“Hai”
sapa Lia membuyarkan lamunan Dicky.
“Eh, Li. Ehhm... Hai
juga”,
kata Dicky terkejut.
“Sori
ngagetin ya? Kamu ngapain di sini? Gak di dalem aja sama yang lain?”,
tanya Lia.
“iya
dikit ngagetin, hehe. Eehmm.. aku di sini aja, pengen nikmatin udara”
katanya gugup
“sorry
kalo ngagetin kamu. Tadi di cari ayah taunya kamu di sini”
“Iya,
tar aku ke dalam”, jawab Dicky. “Oke,
aku ke dalam dulu ya”, kata Lia.
“Eh,
Li, tunggu”, kata Dicky tiba-tiba menarik tangan
Lia. Lia menoleh.
“Aku
mau kasih ini ke kamu, happy Valentine ya”,
kata Dicky sembari memberikan sebuah kotak berbentuk persegi panjang. Lia
menerimanya dengan pandangan penuh tanya, lalu membuka kotak itu. Dia
terkesiap, darahnya berdesir ketika melihat isi kotak itu. Sebuah kalung perak
dengan liontin berbentuk hati yang terukir huruf L di tengahnya. Dia menatap
Dicky dengan sorot mata penuh tanya.
“Itu
untuk kamu, sengaja aku pesan dengan inisial nama kamu. Aku sayang kamu Li, aku
tulus sayang sama kamu” kata Dicky
“Dicky,
maaf, aku gak bisa terima ini semua”,
kata Lia sambil menyodorkan kotak itu.
“ambil
saja, itu buat kamu, meskipun kamu gak mau terima aku. Kalung itu tetap buat
kamu. Aku Cuma pengen kamu tau kalau aku sayang sama kamu, dan aku gak pengen
menyesal karena terlambat mengatakannya. Boleh aku tau alasannya kenapa kamu
gak bisa terima aku?”, tanya Dicky. Dia
terlihat tenang, namun kesedihan terpancar dari sorot matanya.
“Aku
gak bisa karena.. karena..”
“Karena
kamu takut aku seperti laki-laki lain yang memaksa kamu melupakan Ega, dan
memaksa kamu membuang memori tentang Ega?”,
sahut Dicky memotong ucapan Lia. Lia tertunduk, air matanya seketika mengalir.
Dicky berjalan menghampirinya, dan mengusap air matanya.
“Gak
Li, kamu salah. Aku gak akan memaksa kamu melupakan Ega, aku gak akan memaksa
kamu untuk membuang semua memori tentang Ega. Aku tau betapa berartinya Ega
buat kamu. Aku gak apa kalau harus mendiami sebagian kecil hati kamu, sisa
bagian Ega, aku gak masalah hidup di balik bayang-bayang Ega, aku Cuma pengen
kamu tau bahwa aku tulus sayang sama kamu, Lia”
Lia
menatap Dicky, air matanya semakin deras mengalir. Ya Tuhan, apa dia orang yang
Kau kirim? Ega, apakah Dicky orangnya? Tanyanya dalam hati. “Apa
kamu yakin sama apa yang kamu katakan?”,
tanya Lia sambil terisak. “Ya, aku yakin, dan
aku gak akan pernah menyesal mengatakannya”, jawab Dicky, tangannya terulur memberikan
sekuntum mawar putih untuk Lia. Lia menatap Dicky “mawar putih?”, tanyanya terkejut. “Mawar putih, bunga kesukaan kamu, aku
beri sebagai tanda bahwa aku tulus sama kamu”, jawab Dicky sambil tersenyum. Lia
tersenyum di balik tangis bahagianya “Semoga memang kamu orang yang di kirim
Tuhan buat aku. Sejujurnya aku juga sayang kamu, Dicky”, kata Lia akhirnya. Dicky tersenyum
dan memeluk Lia.