Halaman

13 Februari 2013

Mawar Putih Untuk Lia - Part 3 -


       Lia menarik Nina menuju teras depan begitu makan malam selesai. Sorot matanya meminta penjelasan atas apa yang terjadi di rumahnya. Nina hanya tersenyum.Li, aku tau kamu sebenarnya mempunyai perasaan terhadap Dicky, tapi kamu hanya takut, kamu masih takut untuk membuka hati. Li, kamu gak bisa terus-terusan kayak gini, kamu harus terusin hidup kamu. Kakak pasti sedih kalau liat kamu masih tetep kayak gini, karena itu aku sengaja ngundang si Dicky waktu aku tau kalau dia sayang sama kamu kata Nina
Tapi aku aku takut Nin, aku takut kalo dia sama seperti laki-laki lain yang menuntut aku untuk ngebuang semua memori tentang Ega, kamu tau aku gak akan bisa nglakuin itu, kata Lia sambil terisak
iya Li, aku tau itu, tapi kita juga gak akan tau kebenarannya kalau kamu gak berani mencoba, gak ada salahnya kamu memberi kesempatan Dicky untuk membuktikannya, kata Nina sambil memeluk Lia. jujur sama hati kamu, ikutin kata hati kamu, kalau kamu memang sayang Dicky, perjuangkan itu, buka hati kamu. Aku nglakuin ini karena aku sayang kamu, Li. Aku ingin Lia yang dulu kembali lagi, kata Nina lagi. sekarang hapus air mata kamu, dan temui Dicky, dia ada di gazebo taman belakang, kata Nina sambil mengusap air mata Lia. Lia mengangguk dan tersenyum. Thanks Nina, kata Lia. anytime, balas Nina sembari tersenyum.
        Lia berjalan menuju gazebo taman belakang seperti yang di beritahukan Nina, benar saja Dicky menanti di situ. Dia duduk seperti menanti sesuatu. Mungkin seseorang lebih tepatnya. Lia menghampiri Dicky yang termenung.
Hai sapa Lia membuyarkan lamunan Dicky.
Eh, Li. Ehhm... Hai juga, kata Dicky terkejut.
Sori ngagetin ya? Kamu ngapain di sini? Gak di dalem aja sama yang lain?, tanya Lia.
iya dikit ngagetin, hehe. Eehmm.. aku di sini aja, pengen nikmatin udara katanya gugup
sorry kalo ngagetin kamu. Tadi di cari ayah taunya kamu di sini
Iya, tar aku ke dalam, jawab Dicky. Oke, aku ke dalam dulu ya, kata Lia.
Eh, Li, tunggu, kata Dicky tiba-tiba menarik tangan Lia. Lia menoleh.
Aku mau kasih ini ke kamu, happy Valentine ya, kata Dicky sembari memberikan sebuah kotak berbentuk persegi panjang. Lia menerimanya dengan pandangan penuh tanya, lalu membuka kotak itu. Dia terkesiap, darahnya berdesir ketika melihat isi kotak itu. Sebuah kalung perak dengan liontin berbentuk hati yang terukir huruf L di tengahnya. Dia menatap Dicky dengan sorot mata penuh tanya.
Itu untuk kamu, sengaja aku pesan dengan inisial nama kamu. Aku sayang kamu Li, aku tulus sayang sama kamu kata Dicky
Dicky, maaf, aku gak bisa terima ini semua, kata Lia sambil menyodorkan kotak itu.
ambil saja, itu buat kamu, meskipun kamu gak mau terima aku. Kalung itu tetap buat kamu. Aku Cuma pengen kamu tau kalau aku sayang sama kamu, dan aku gak pengen menyesal karena terlambat mengatakannya. Boleh aku tau alasannya kenapa kamu gak bisa terima aku?, tanya Dicky. Dia terlihat tenang, namun kesedihan terpancar dari sorot matanya.
Aku gak bisa karena.. karena..
Karena kamu takut aku seperti laki-laki lain yang memaksa kamu melupakan Ega, dan memaksa kamu membuang memori tentang Ega?, sahut Dicky memotong ucapan Lia. Lia tertunduk, air matanya seketika mengalir. Dicky berjalan menghampirinya, dan mengusap air matanya.
Gak Li, kamu salah. Aku gak akan memaksa kamu melupakan Ega, aku gak akan memaksa kamu untuk membuang semua memori tentang Ega. Aku tau betapa berartinya Ega buat kamu. Aku gak apa kalau harus mendiami sebagian kecil hati kamu, sisa bagian Ega, aku gak masalah hidup di balik bayang-bayang Ega, aku Cuma pengen kamu tau bahwa aku tulus sayang sama kamu, Lia
Lia menatap Dicky, air matanya semakin deras mengalir. Ya Tuhan, apa dia orang yang Kau kirim? Ega, apakah Dicky orangnya? Tanyanya dalam hati. Apa kamu yakin sama apa yang kamu katakan?, tanya Lia sambil terisak. Ya, aku yakin, dan aku gak akan pernah menyesal mengatakannya, jawab Dicky, tangannya terulur memberikan sekuntum mawar putih untuk Lia. Lia menatap Dicky mawar putih?, tanyanya terkejut. Mawar putih, bunga kesukaan kamu, aku beri sebagai tanda bahwa aku tulus sama kamu, jawab Dicky sambil tersenyum. Lia tersenyum di balik tangis bahagianya Semoga memang kamu orang yang di kirim Tuhan buat aku. Sejujurnya aku juga sayang kamu, Dicky, kata Lia akhirnya. Dicky tersenyum dan memeluk Lia.