Mereka
bersama turun menuju meja makan. Terlihat di sana semua sudah berkumpul untuk
makan malam bersama. Ada Ayah, Bunda, kedua adik Lia, juga ada Ray dan Conny.
Semua tersenyum menyambut Lia yang muncul bersama Nina. Makan malam ini terasa
begitu menyenangkan. Sejenak Lia bisa melupakan ingatan tentang Ega, dia bisa
tertawa lepas jika berkumpul bersama mereka. Lia merasa beruntung memiliki
mereka.
Ting tong!
Suara bel menghentikan sejenak canda mereka, masing-masing
bertanya-tanya dalam hati, siapa yang bertamu malam hari begini. Nina berjalan
menuju ruang tamu untuk membuka pintu. Agak lama sebelum Nina kembali menuju
ruang makan.
“Lia,
ada yang mau ketemu kamu”, kata Nina sembari
tersenyum penuh arti.
“Siapa?”,
tanya Lia dengan dahi berkerut, seingatnya dia tak mengundang siapapun selain
yang sekarang berada di ruang makan bersamanya.
Nina hanya tersenyum. Dari
belakangnya muncul seseorang yang di kenal Lia.
“Dicky?
Ada perlu apa tiba-tiba kamu datang?”,
tanya Lia tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
“Aku
datang karena Nina, dia mengundangku datang.”,
kata Dicky
“Surprise!
Aku memang sengaja mengundangnya setelah mendengar dia bilang kalau dia pengen
ketemu sama kamu Li” kata Nina.
“Selamat
datang di rumah kami, Nak Dicky. Ayo kita makan, kebetulan makan malam belum
selesai”,
kata Ayah Lia tiba-tiba.
Nina menghampiri Dicky dan
mengajaknya duduk untuk makan bersama, duduk di satu-satunya kursi yang
ternyata memang sengaja dia sediakan untuk Dicky, kursi di samping Lia. Mereka
melanjutkan makan dengan gembira, sesekali ayah dan bunda Lia mengajak Dicky
bercanda, begitu juga Ray dan Nina yang sesekali menggoda mereka berdua. Lia
hanya tersenyum, begitu juga Dicky hanya tersenyum dan menjawab seadanya.
Sepertinya dia belum terbiasa dengan suasana rumah ini.