Halaman

19 November 2014

Delusi

Aku melihatnya duduk termenung di sudut kamarnya
menengadah melihat bintang sambil memeluk kakinya
'Hei, ada apa?' tanyaku
'Kumiko.. kapan semua ini akan berakhir?' tanyanya tanpa mengalihkan pandangannya.
Aku tersenyum dan duduk di dekatnya. 'Aku tak tau' kataku.
Ku dengar ia menghela napas panjang.
'Aku lelah' katanya.
'Aku tau, aku pun merasakannya. Kau tentu menyadarinya kan?' tanyaku. Dia tak menjawab hanya menganggukkan kepalanya.
'Apa kau akan berhenti?' tanyaku ragu. Dia menghela napas lagi. 'Entahlah' katanya
'Sudah hampir setahun, tapi bahkan aku tak tahu ujungnya' katanya. 'Apakah semua ini akan sia-sia?' tanyanya lagi sambil memandangku.
Aku terdiam, cukup lama. Dia mengalihkan pandangannya, 'mungkin benar, semua ini hanya sia-sia' katanya
'Mengapa kau berkata seperti itu? bukankah selama ini kau cukup optimis?' tanyaku 'kau tak boleh berhenti seperti ini, justru jika kau berhenti semua hanya akan sia-sia' kataku
'Lalu apa yang harus aku lakukan? hanya bayangan yang mampu ku harapkan, tak lebih, apa kau masih menganggap ini nyata? Semuanya semu !' katanya berang.
Aku mendengarnya terisak. Ku rasakan perih dalam dadaku, seperti yang di rasakannya.
'Semua ini semu. Aku lelah berharap pada bayangan semata. Aku lelah menggapai bayangan. Bayangan yang tak akan sanggup aku genggam. Jangankan menggenggam, memandangnya pun aku tak bisa.' katanya dalam isak.
Air mata turut mengalir dari mataku, hanya air mata tanpa isak. Jantungku berdegup kencang. Dadaku serasa terhimpit. Aku rasakan penderitaan yang dia rasakan saat ini.
Berharap bayangan yang bahkan aku sendiri tak tau dia hanya bayangan atau nantinya akan berubah menjadi sebuah kenyataan.

2 April 2014

Unknown title 4

malam datang lagi
terkadang aku benci saat malam hadir
dinginnya menyusup menusuk raga
dan malam selalu bisa membuatku seperti ini
termenung merenung menyusupi relung kalbu
seperti sekarang..
aku termenung memandang langit malam ini
logika memandangku dan menghampiriku
'mengapa kau termenung ?'
aku tersenyum memandangnya
'aku tau apa yang dirasa' kata hati membelaiku
'lepaskan semua bebanmu' kata logika
aku terisak dalam diam
logika da hati memelukku
'sudahkah kau coba mencarinya lagi ?' tanya hati
'percuma , dia sudah tak tergapai lagi , terlalu jauh untuk ku raih , mungkin dia sudah menemukannya' kataku mencoba tersenyum
'dan biarkan dirimu terkurung dalam delusi?' tanya logika
'delusi atau realita , aku tak dapat membedakannya , semua terasa nyata' kataku lirih
'jangan siksa dirimu , jangan tutup matamu , liat keluar , ada yang sedang menunggumu menyambut uluran tangannya' kata logika tersenyum
hati mengangguk meyetujui, dan tersenyum
aku pun tersenyum memandang mereka

Unknown Title 3

aku bertanya pada diriku
haruskah aku menemui malam setiap hari ?
bukannya aku membenci malam
tidak, aku justru mencintai malam
tapi tidak untuk saat ini..
aku tersudut termenung
'aku lelah' kataku
logika berbisik 'pergi saja , buat apa kau berjuang utk seseorang yg tak mau kau perjuangkan ?'
ketika kaki hendak melangkah , hati menahanku utk tinggal
dia berkata 'bertahanlah sebentar saja' katanya sambil tersenyum
aku menunduk , hingga akhirnya logika kalah dgn hati
logika berbisik 'dasar bodoh'
dan hati hanya tersenyum . miris .
aku pun benci pada rindu , sangat benci , karena tak hanya sesak tapi juga menyakitkan , apalagi jika rindu itu tak berbalas , seakan aku tersudut dan tak berdaya , hingga logika tersenyum dan berkata 'dasar bodoh !'
dan hati hanya mampu tersenyum . miris
aku bersandar
ku dengar mereka berbisik satu sama lain
'ada apa ?' tanyaku
'tidak , apa kau yakin akan keputusanmu ?' tanya logika
'entahlah' kataku
mereka diam
berbisik pada diri mereka sendiri namun dengan suara yang masih dapat ku dengar
'dasar bodoh !' kata mereka bersamaan
aku tertawa dalam diam . miris .
'apa kau sengaja pergi ?' tanya logika
aku menggeleng perlahan
'jika dia sengaja pergi , dia tak mungkin meninggalkan pesan' kata hati sambil menunjukku
'tenang saja , kita akan pergi ke tempat yg dia tau sembari menyembuhkanmu' kataku
'terserahmu saja' kata logika
tanpa sadar mataku buram tertutup air mata yang siap mengalir
aku mengalihkan pandanganku , tak ingin terlihat oleh mereka
'hei , apa kau baik-baik saja ?' tanya logika
aku tersenyum pada mereka
'ya , aku baik-baik saja' kataku
mereka memelukku . erat .
'jangan berpura-pura tegar , jangan sembunyikan tangismu di balik senyummu , dia akan menodai senyum indahmu' kata hati
aku terisak dalam pelukan mereka

symphoni

pagi memang indah, mentari pancarkan senyumnya yang hangat
tapi aku lebih mencintai sempurnanya malam
bukan, bukan karena dia sempurna
tapi karena aku bisa menemuimu
mendengarmu dalam balutan symphoni malaikat mungil
di bawah kerlip bintang dan sinar redup sang purnama
symphoni itu, dapatkah kau dengar ?
tidak, tak ada yang bisa mendengar
hanya aku dan mungkin dirinya
symphoni malaikat-malaikat mungil
mengalun indah menyusup kalbu
kamu , dapatkah kamu dengar symphoni itu ?
ataukah hanya aku yang mendengar ?
kubiarkan semua ini kelabu
symphoni itu indah
namun terkadang begitu menyakitkan hingga ku tak sanggup mendengarnya
ada yang bertanya, apa yang membuatmu jatuh hati ?
aku jatuh hati pada tawanya
aku jatuh hati pada diamnya
aku jatuh hati pada suaranya
aku jatuh hati pada candanya
aku tertawa dalam hati
aku pun tak mengerti mengapa aku jatuh hati
mungkin malaikat mungil itu yang melepaskan panahnya
dia hanya melaksanakan tugas dari sang amor
aku pun tak menyalahkannya

10 Februari 2014

Unknown Title 2

apa semua ini benar ?
ku tanya pada sanubariku
apa benar ruang ini tak lagi hampa ?
sanubariku terbungkam
dia tak tahu harus berkata apa
bisu, lidahnya kelu
pelangi kecilku menari
sinarnya indah bertabur gemerlap bintang
menari mengitariku
dia menarikku dan berbisik

'malaikat kecil itu telah menancapkan panahnya padamu
dia kini menunggu untuk menancapkan pada pangeranmu'

aku terbungkam, membisu
jadi ini yang selama ini terjadi
getaran yang menjalar
menyeruak ke dalam sanubariku
mengisi kekosongan ruang ini

aku bertanya pada sanubariku
'apa ini ? inikah cinta ? sayang ? atau hanya kagum ?'
sanubariku tersenyum
tertatih berjalan menghampiriku
'biarkan sang waktu yang menjawab
kau akan tahu apa yang sebenarnya kau rasa'

aku tersenyum
rasa ini ku genggam erat
tak kan ku biarkan hilang
sampai sang waktu merenggutnya

Unknown Title

kuntum bunga asmara mekar
tumbuh dalam sanubari
aku bahagia memilikimu
saat itu
sampai prahara itu datang
dan bunga yang tertanam hancur sudah
aku terseok, aku tertatih
seakan semua duniaku sirna
pelangiku hitam, kelam

aku coba bangkit berdiri
berjalan meskipun terseok
mencoba berlari meskipun tertatih
aku menangis dalam diam
aku merintih dalam tawa
aku menjerit dalam isakku

sebuah tangan terulur padaku
mengangkatku, memapahku
mengusap peluh dan bulir air mataku
dia tersenyum padaku dan berbisik
"Kamu adalah wanita terkuat yang pernah ku temui,
dia akan menyesal karena terlalu takut untuk memelukmu"
sosok indah itu mendekapku dalam peluknya
aku menjerit dalam peluknya, aku terisak dalam genggamannya

Setahun berlalu sudah
senyum dan canda kembali merekah di bibir ini
pelangiku kembali indah
memancarkan warna-warna cerianya
bintang-bintangku kembali bersinar
seiring senyum yang terukir

sebuah tangan menyentuhku
memalingkan wajahku
saat ku lihat sosok yang menyentuhku
ku merasa bagai badai petir menyerangku
ku tarik paksa bibir ini agar tersenyum
senyum dan suara khas yang dulu sempat membuaiku kembali hadir
suara itu berbisik padaku
mengucapkan sejuta kata maaf karena merusak pelangiku
sorot mata yang menampakkan sesal dan derita yang begitu dalam
ku tersenyum dan berbisik
jangan menangis, aku baik-baik saja

sekali lagi dia mencoba masuk
menerobos tiap celah di hatiku
namun tidak bisa
dia menatapku penuh tanya
aku tersenyum dan berkata
maaf, ruang ini telah terisi
aku tak lagi bisa menempatkanmu di dalamnya
carilah ruang yang lain
hanya satu pintaku
jangan pernah takut memperjuangkan cintamu
perjuangkanlah selagi masih bisa
sebelum dia terlalu lelah dan menyerah untuk berjuang