Halaman

25 Juli 2012

Tokoh-tokoh di BaLik Cerita

Cerita "Sepucuk Surat untuk LIA" merupakan sebuah cerita yang terinspirasi dari mimpi yang tokoh-tokohnya memang nyata. Namun meskipun tokohnya nyata, ceritanya murni hanya fiktif. Berikut beberapa tokoh yang memang nyata :
Theo : daLam kehidupan nyata memang kakak kandung, kakak kedua Nina
Ray : daLam cerita adaLah sepupu Nina, begitupun di dunia nyata
Nina : anak bungsu dari 3 bersaudara, cewek sendiri, kakanya bernama Dimas dan Theo
Ega : anak Kebumen, kenaL Nina di MaLL, yg berbeda adaLah daLam knyataan Ega dan Nina kenaL di dunia maya
Lia : di mimpi ada namanya Lia, tp di dunia nyatagak ngerti Lia itu sapa, yg Nina kenaL adaLah Lia yang beda tapi domisiLi sama-sama di Jakarta
Conny : sepupu Nina d Jakarta, kaLau ini asLi fiktif karena Nina gak punya sepupu yang bernama Conny di Jakarta

oke , ini nama-nama daLam dunia nyata :
Dimas : nama panggiLan daLam dunia nyata Ivo, di ambiL dari nama panjangnya yaitu Ivo Dimas
Theo : nama panggiLan daLam dunia nyata Levi , Theo di ambiL dari nama panjangnya Mateus Levi > Mateus = Mathew = Mateo
Ray : nama panggian daLam dunia nyata tetap Ray
Nina : nama panggiLan daLam dunia nyata Inez yaitu penuLis sendiri
Ega : nama panggiLan daLam dunia nyata Errgy
Lia : tetap , gak ada yg dirubah
Conny : gak ada di dunia nyata

SpeciaL thanks aku ucapkan kepada mas Errgy yang udah jadi tokoh daLam cerita, Lia pembaca setia dan pembaca pertama, sepupu aku Ray yang jadi tokoh yang setia nemenin Nina, kakak-kakak aku Ivo dan Levi, Ibu yang jadi pembaca setia juga. Teman-teman fcebook dan twitter yang udah jadi pembaca setia dan teman-teman pengunjung , thanks for you aLL guys

19 Juli 2012

Sepucuk Surat Untuk LIA -The Last-

        Kampus Kijang? Di mana itu? Aku beLum pernah mendengarnya. Tapi ku yakin ini petunjuk keberadaan Lia. Tuhan, bantu kami. Kak bantu aku, kataku daLam hati. Ku segera mengambiL teLepon genggam dan mencoba menghubungi Conny.

"Con, aku dapet petunjuk di mana Lia kuLiah" kataku
"Di mana? terus rumahnya?"
"Dia udah pindah, tapi tadi ada anak keciL yang kasih tau aku di mana Lia kuLiah" jeLasku
"Bener kan dugaan gue, terus di mana?"
"Kampus Kijang" kataku
"Kampus Kijang?" tanyanya heran
"Tunggu gue di sana, Lo masih di tempat tadi kan? Gue sama Ray ke sana sekarang" katanya
"aku di taman deket tempat yang tadi" kataku sambiL menutup teLepon

       Tak sampai 10 menit mereka sampai. Mereka keLihatan LeLah sekaLi. Ku ambiL botoL minum yang tadi ku bawa. Ku sodorkan kepada mereka. Mereka menerimanya dengan cepat dan meneguknya.

"Sorry ya guys, ngerepotin kaLian" kataku merasa bersaLah
"Lo nyante aja Nin, gue ngerti kok gimana jadi Lo, kaLau gue jadi Lo, gue juga bakaL ngLakuin haL yang sama." kata Conny
"Thanks Con" jawabku tersenyum
"Udah deh, terus gimana nih kampus Kijang?" tanya Ray
"Gue curiga itu bagian dari sebuah universitas, bukan universitas yang berdiri sendiri. Karena gue gak pernah denger nama universitas itu" kata Conny
"Aku juga berpikir gitu" kata Ray
"aahh, bego, kenapa gak googLing aja coba, cari di situ kampus kijang" kataku sambiL menepuk jidat.
"Lo bener Nin, oke bentar gue bawa tabLet, gue ambiL duLu di mobiL. Lo berdua coba googLing Lewat handphone" kata Conny sambiL berLari masuk mobiL
"Aku gak fuLL service Ray, kamu?" tanyaku
"Aku juga gak, kita tunggu Conny aja" jawabnya Lemas


"KaLian gak coba nyari?" tanyanya heran waktu kembaLi meLihatku dan Ray hanya duduk termenung
"Kita gak pakai fuLL service" kataku
"YaeLah, oke deh"


Beberapa menit kemudian....

"Ketemu ! Binus, kampus kijang bagian dari Universitas Bina Nusantara" kata Conny girang
"Di mana itu?" tanyaku cepat
"Gue rasa gak begitu jauh dari sini, masih di Jakarta Barat" katanya tersenyum girang
"SyukurLaah" kataku sambiL mengheLa napas Lega
Ray tersenyum Lega mendengarnya. Kita semua tersenyum senang. Ada titik terang keberadaan Lia.
"Tapi kita gak bisa nyari sekarang, hari udah muLai geLap" kata Ray
"Lo bener Ray. Gini aja, kita puLang duLu, istirahat, kita Lanjutkan besok Langsung ke Kampus Kijang" kata Conny

         Aku hanya mengangguk, jujur aku ingin mecari hari ini juga. Namun aku sadar kita semua LeLah. Butuh istirahat. Dan akhirnya ku putuskan mengikuti mereka. PuLang dan meLanjukan pencarian besok.

Jakarta, 11 JuLi 2012

      Mentari menyapa dengan sinarnya yang hangat. Hari ini aku, Ray, dan Conny akan meLanjutkan misi mencari Lia. Yah, kemarin kami menemukan titik terang keberadaan Lia. Kampus Kijang Universitas Bina Nusantara.
      Kami teLah siap mencari. SeteLah mandi, bersiap, dan makan. Kami menuju garasi. Bertiga naik mobiL yang dikendarai Conny karena hanya dia yang tau kota Jakarta. KembaLi kami harus menempuh perjaLanan panjang karena seperti yang aku biLang, jauh dari rumah Conny. Hampir satu jam Lamanya kami menempuh perjaLanan. Tiba kami di kampus Kijang Binus. KembaLi kami berpencar. Dengan bekaL nama, aLamat rumah Lama kami bertanya pada setiap mahasiswa yang ada di situ.
        Dua jam Lamanya kami mencari, nihiL. Kami putuskan beristirahat. Duduk di kursi taman yang ada di situ sembari menikmati bekaL yang kami bawa.

"Aku takut gak bisa memenuhi permintaan kak Ega" kataku
"Lo yakin pasti bisa, kaLaupun gak bisa, seenggaknya Lo udah berusaha sampai sejauh ini. Gue saLut sama Lo. Dan gue yakin Ega pasti ngerti." kata Conny
"Tapi gimana dengan keLuarga mas Ega di Kebumen? Mereka berharap banget sama kita" kataku Lemas
"Mereka pasti ngerti, seenggaknya kita semua udah berusaha" kata Ray

Aku termenung memikirkan kata-kata mereka. Semoga saja mereka mau mengerti. Karena jujur aku muLai putus asa. Kami sama sekaLi beLum menemukannya, ya menemukan Lia.

"Permisi" tiba-tiba di beLakangku terdengar suara cewek menyapa. Kami menoLeh.
"Iya, ada apa mbak?" tanyaku sambiL tersenyum
"Maaf tadi saya dengar kaLian nyebut nama Lia, Ega, dan Kebumen. Apa yang kaLian maksud Ega pacarnya Lia anak Binus ?" tanyanya
"Iya, mbak kenaL sama Lia?" tanya Ray
"Saya Lia" jawabnya sambiL menguLurkan tangan.

       Kami terkejut, tak kusangka orang yang kami maksud datang sendiri kepada kami. Ku baLas jabat tangannya. Dia menjabat tangan kami satu persatu. Ku perhatikan sosoknya. Cantik. Anggun. Kak Ega hebat bisa mempunyai pacar sepertinya. Tapi kini geLisah menghampiriku. Bagaimana cara menyampaikan berita itu ke Lia?  batinku.

"Ada apa kaLian mencari saya?" tanyanya ramah
"Begini kami mencari kamu mau menyampaikan pesan dari Ega." kata Ray, spontan ku genggam tangan Ray.
"Berita apa? kok kaLian tegang ?" tanyanya heran menatap kami satu persatu.
"Ehm, begini... kami.. ehm..." jawab Conny gugup
"Oke, begini saja, kita bicara di rumahku. Biar Lebih tenang. KebetuLan hari ini kuLiahku kosong. Aku ke kampus cuma mau ngumpuLin tugas." jawabnya

       Kami bertiga mengikuti mobiL Lia menuju rumahnya. Tak begitu jauh dari kampusnya. Yah hanya sekitar 15 menit perjaLanan. Kami turun dari mobiL dan masuk ke rumah Lia. Dia menyambut kami dengan ramah.

"Ada apa sebenarnya kaLian mencariku?" tanyanya begitu kami semua duduk di ruang tamu.
Aku ceritakan kejadian dari awaL sampai akhir. Ku Lihat air mata muLai mengaLir di pipi Lia. Aku mati-matian menahan tangis.
"Gak mungkin, kaLian pasti saLah. Ega gak mungkin meninggaL" katanya sambiL menangis
"Kami gak saLah, aku dan Ray berada di sana. Dan kak Ega menitipkan surat ini padaku." kuserahkan surat yang ku bawa kepada Lia. Ku menoLeh, air mataku tak dapat Lagi kubendung. Ray merangkuLku.

        Lia membaca surat itu, tangannya gemetar, air matanya deras mengaLir. Ku tak sanggup meLihatnya. Hatiku sakit. Ku teringat pada peristiwa itu, detik-detik menjeLang kepergian kakak. Aku menangis di bahu Ray, Conny membeLai rambutku untuk menenangkanku.

"Gak ! Gak mungkin ini terjadi ! Gaakk, Egaaa, kamu gak boLeh ninggaLin akuu ! Egaaa !!!" jeritnya histeris.
Tiba-tiba BRUKK !!!
"Liaaa !" Conny menjerit. Lia pingsan.
"Li, bangun Li. Liaa sadar" kata Conny.
Ku ambiL minyak kayu putih dari daLam tasku. Ku dekatkan pada hidung Lia. Lia muLai tersadar.
"Egaa !" jerit Lia terbangun.
"Ega mana? Ega di mana? Egaa, mana diaa? dia masih hidup kan? dia masih hidup kan? JAWAB !" bentaknya
"Li, sadar Li, Ega udah gak ada, kita ke sini mau nyampaiin pesan dari Ega buat Lo" kata Conny
"Gak mungkin, Ega gak mungkin pergi ninggaLin gue Con, gak mungkin" kata Lia sambiL menangis

      Sementara aku tak sanggup berkata-ata Lagi, ku hanya bisa menangis. Ku dapat merasakan kepedihan yang dirasakan Lia. Ray memeLukku. Sementara Conny menenangkan Lia.

"Li, kita ke sini mau menyampaikan pesan dari kakak untuk kamu, kita gak ada maksud Lain" kataku sambiL terisak
"Iya Li, sekarang kamu tenangin diri kamu duLu." kata Conny

       Conny dan Ray menuntun Lia masuk ke kamar untuk menenangkan diri. Aku mengikuti mereka. Ku bantu Conny dan Ray membaringkan Lia ke tempat tidurnya. Lia masih terLihat shock, badannya Lemas, dingin, dan pucat. Ku ambiL air minum dari dapur, dan sepiring nasi yang tersedia di meja makan. Ku sodorkan pada Conny, ku minta Conny untuk menyuapi Lia, karena nampaknya Lia masih marah padaku.
      Lia tertidur seteLah makan, nampaknya dia muLai tenang. Aku, Conny, dan Ray tampaknya harus berdiam di sini sampai Lia terbangun. Aku khawatir dia akan histeris Lagi kaLau bangun dan ingat apa yang terjadi hari ini. Aku meLihat sekeLiLing kamar Lia. Begitu banyak foto dia bersama kakak yang terpasang di dinding dan meja kamarnya. Aku tersenyum sedih. Ku ambiL sebuah foto dan ku pandangi. Mereka terLihat serasi, sayang kakak harus pergi secepat ini.

"Lia uda tidur,sebaiknya kita keLuar, biar Conny yang menemaninya" kata Ray
"Oke" kataku sambiL menganggukan kepaLa

       Aku dan Ray menunggu di Luar. Udara di ruangan ini dingin karena AC yang menyaLa, tanpa terasa aku tertidur karena keLeLahan. Kami semua terLeLap karena LeLah. LeLah karena semua yang terjadi sampai hari ini.
       Tiba-tiba Conny membangunkanku dan Ray. Kami bangun dan meLihat sekeLiLing. Hari muLai geLap, nampaknya kami harus segera puLang sebeLum ada yang mencari kami.

"Lia mencari kaLian" kata Conny
Aku menoLeh pada Ray. Ray menganggukan kepaLa. Bertiga berjaLan menuju kamar Lia.
"Aku bermimpi bertemu Ega" kata Lia tiba-tiba
"Dia memintaku menjaga diri, dan dia memintaku menjagamu, adiknya" kata Lia sambiL menatapku. Tanpa sadar butiran air mata menetes di pipiku.
"Maaf, aku sudah membentakmu, aku menyaLahkanmu atas apa yang terjadi. Aku tidak bisa menerima semua ini. Menerima kenyataan bahwa Ega meninggaLkanku untuk seLamanya" katanya sambiL terisak.

       Spontan aku menghampirinya dan memeLuknya. Aku sangat mengerti yang dirasakan Lia. Bahkan aku sendiri sampai saat ini sebenarnya masih tidak bisa mempercayai kenyataan bahwa Kak Ega teLah meninggaLkan kami seLamanya.

"Gak apa Li, aku mengerti apa yang kamu rasakan. Maafin aku uga karena membawa kabar ini tiba-tiba" kataku.
"Iya. Aku ingin kamu mengabuLkan satu keinginanku, bisa?" pintanya
"Apa?"
"Bawa aku ke Kebumen. Ke tempat peristirahatan Ega yang terakhir" pintanya
"BaikLah, kami akan membawamu ke sana" kata Ray

      Aku menoLeh pada Ray, dia tersenyum dan mengangguk. Aku tersenyum. Aku menoLeh pada Lia dan tersenyum padanya. Dia memeLukku.
     Kami berangkat ke Kebumen esok harinya. KaLi ini bersama Lia dan Conny. Kami terbang ke jogja dan seLanjutnya menuju ke Kebumen. Hampir satu hari perjaLanan, sampaiLah kami di rumah budhe.

"Ini rumah Ray, kita beristirahat di sini sebentar, seteLah itu baru kita menuju makam" kataku
"KaLian minum dan makan ini duLu, biar ada tenaga" kata budhe sambiL menaruh beberapa geLas air minum dan sepiring kue
"terimakasih bu" kata Lia

       Puas beristirahat, berempat menuju ke makam kak Ega. Dengan naik mobiL yang di kendarai Ray, kami menuju ke sana. Ku bawa sekeranjang keciL bunga untuk di taburkan ke makam kakak. Ku genggam tangan Lia dan ku tersenyum, mencoba menguatkannya dan menguatkan diriku sendiri. Dia menoLeh dan tersenyum. Tak Lama kemudian, sampaiLah kami ke makam kakak. Sampai di tempat Lia bersimpuh dan menangis. Untuk kesekian kaLinya air mataku mengaLir. KupeLuk Lia, mencoba menenangkannya. Ku sodorkan keranjang berisi bunga. Dia mengambiL dan menaburkannya.
     Aku berdiri dan mendekati Ray yang berdiri tak jauh dari situ. Ray merangkuLku dan tersenyum. Ku menoLeh ke arah sudut dekat nisan kakak. Ku menangkap sesosok bayangan putih di sana. Ku mengerjapkan mataku. Sesosok LeLaki berdiri dengan baju putih yang bersinar, wajahnya berseri-seri menatap Lia. Ku pastikan pandanganku. Ku terkejut.

Itu kakak, ya tak saLah Lagi itu sosok kakak.
Pandanganku tak Lepas darinya. Kakak hadir! Kakak di sini! ingin rasanya ku bereriak, namun muLutku terkunci. Tiba-tiba sosok itu menoLeh padaku dan tersenyum. MenghiLang, sosok itu menghiLang seteLah dia tersenyum padaku.

"Kakak" kataku sambiL tersenyum, hanya kata itu yang mampu kuucapkan
"Nin, kamu kenapa? Nin?" kata Ray sambiL mengguncang bahuku
Aku tersadar
"Hah? Oh iya, aku gak apa kok, cuma tadi meLamun" kataku

       Lia dan Conny menghampiriku. Dia memeLukku dan tersenyum. Matanya mengatakan terimakasih namun bibirnya tak mampu mengucapkan. Aku tersenyum dan mengangguk. Ray mengajak kami puLang. Kami berempat berjaLan menuju parkiran. Aku menoLeh ke arah makam kakak.

SeLamat jaLan kakak, beristirahat yang tenang. Kakak seLaLu ada di hati kami semua.
SeLamat jaLan kak Ega, batinku.

17 Juli 2012

Sepucuk Surat Untuk LIA -Part 4-

        Aku tersenyum terharu membaca surat itu. Kepedihan yang kurasa pasti tak sebanding dengan kepedihan kakak karena harus meninggaLkan perempuan yang sangat dicintainya. DaLam surat itu aku rasakan begitu besarnya cinta kakak kepada Lia. Kakak, Nina janji surat ini akan sampai ke tangan Lia apapun resikonya, batinku.
       Suasana di makam begitu piLu, yang terdengar hanya suara isak tangis dari keLuarga, saudara dan teman-teman kakak. Air mataku mengaLir namun kucoba tegar. Ray berdiri di sampingku mencoba menguatkanku. Aku tersenyum menatapnya.
      Hubunganku dengan keLuarga kak Ega gak hanya sampai sini, maLah mereka menganggapku sebagai bagian dari keLuarga mereka. Aku senang mendapatkan keLuarga yg baru di sini.

"Nina" panggiL ibu Kak Ega yang kini kupanggiL Mama
"Ada apa Ma?"
"Ini aLamat Lia yang kamu minta kemarin. Kamu yakin mau ke sana? Itu jauh, dia di Jakarta" kata Mama sambiL menyerahkan sepucuk kertas berisi aLamat
"Nina yakin Ma, Nina udah janji sama aLmarhum kak Ega" kataku sambiL tersenyum
"Baik kaLau keputusan kamu udah buLat, mama di sini cuma bisa berdoa, semoga kamu bisa memenuhi janjimu dan Ega tenang di sana"kata Mama sambiL tersenyum
"Makasih Ma" kataku sambiL memeLuk Mama

      Kuputuskan besok berangkat ke Jakarta. Dengan di temani Ray karena kak Theo ada panggiLan kerja di Semarang jadi dia gak bisa menemaniku. Berdua dengan Ray akan menuju Jakarta. Malam ini kami berangkat ke Jogja untuk seLanjutnya naik pesawat menuju Jakarta.

Jakarta, 10 JuLi 2012

      Akhirnya aku dan Ray menginjakkan kaki di jakarta. Di bandara sepupuku teLah menyambutku dengan hangat. Memang sebeLum ini aku teLah memberitahukan kepada mereka maksudku, untung aja mereka bersedia menemaniku karena jujur saja aku gak tau soaL jakarta. Kuputuskan hari ini Langsung mencari aLamat Lia itu, yang bikin repot aLamat yang tertuLis gak begitu jeLas karena tuLisan nomor rumahnya udah sobek. SeLain itu juga Letak rumahnya jauh dari rumah sepupuku.
     Hampir satu jam perjaLanan untuk mencapai aLamat yang di maksud. Aku, Ray dan Conny turun dan mencarirumah Lia. KompLeksnya cukup besar. Aku bingung harus muLai dari mana. Akhirnya kami putuskan untuk berpencar. Ray ke sebeLah kanan, Conny sebeLah kiri, dan aku dapat bagian yang ada di depanku saat ini.
Satu rumah...
dua rumah...
tiga rumah...
Hampir tujuh rumah sudah kukunjungi, tapi nihiL, hampir putus asa ku mencari. Ku ambiL handphone dan ku coba menghubungi Ray dan Conny.

"Ray, gimana?" tanyaku
"deLapan rumah udah aku kunjungi tapi nihiL" katanya
"Aku juga, udah tujuh rumah, tapi nihiL, terus gimana dong?" kataku Lemas
"kita cari Lagi pasti ketemu, sabar yaa" jawab Ray
"Oke deh, kabari aku Lagi nanti" kataku
"Pasti" jawabnya

 Kututup teLepon dan kini kucoba menghubungi Conny...

"Con, gimana?" tanyaku
"sepuLuh rumah, nihiL" katanya
"yah, gimana dong?" tanyaku
"Lo yakin rumah dia di daerah sini?" tanyanya
"Yakin, kn udah tertuLis di aLamatnya, kenapa ?" tanyaku
"Gue takut kaLau dia pindah rumah" katanya
Aku terdiam mendengar kekhawatiran Conny, karena aku juga khawatir.
"Ya udah deh, gue coba cari Lagi, Lo sabar yaa" katanya
"Thanks ya Con" jawabku smbiL tersenyum

Ku duduk di sebuah kursi taman di dekat situ, mencoba beristirahat sejenak. Ku Lihat seorang anak keciL menghampiriku.

"Kakak cari Kak Lia?"
"Iya, adik tahu?" tanyaku cepat
"Kak Lia udah pindah" katanya
Aku Lemas ketika mendengarnya. Benar dugaan Conny. Aku mengheLa napas.
"Adik tau kak Lia pindah ke mana?" tanyaku berharap berhasiL
"Gak tau"
Semakin Lemas aku mendengarnya. Ku merasa aku tidak akan bisa memenuhi keinginan kak Ega.

"Tapi aku tau di mana kak Lia kuLiah, kakak coba cari di sana" kata adik keciL itu bagai angin segar
"Di mana?" tanyaku semangat
"Kampus Kijang" jawab anak itu
"Kampus Kijang? di mana itu?" tanyaku heran
"Gak tau, tapi kak Lia sering cerita tentang kampusnya. Kampus Kijang katanya. Udah ya kak, aku di panggiL mama. Dadaah" kata anak keciL itu Langsung berLari menghampiri ibunya. 

14 Juli 2012

Sepucuk Surat Untuk LIA -Part 3-

    Surat itu ia berikan padaku. Aku menatap kak Ega dengan wajah bingung. Kak Ega hanya tersenyum. Ku baLik ampLop itu, di situ tertuLis Untuk LIA. Aku kembaLi menatapnya heran.

"Lia itu siapa kak? pacar kakak?" tanyaku
"dia orang yang paLing penting di hidup kakak, karena dia kakak bisa merasakan indahnya hidup, karena dia hidup kakak yang singkat ini jadi indah" jawabnya terbata-bata
"Aku mengerti, dia pasti berarti banget buat kakak" kataku sambiL tersenyum namun air mataku tak berhenti mengaLir
"toLong berikan surat ini padanya. Ini permintaanku yang terakhir" katanya
"ssstt kakak pasti sembuh, kakak gak boLeh ngomong gitu" jawabku
"Kakak mohon dik, satu kaLi ini saja" pintanya
"baikLah, tp aku gak tau siapa Lia dan dimana dia" jawabku
"nanti bunda kasih tau kamu, asaL kamu berjanji duLu akan mnyampaikan surat itu" pinta kak Ega
"Iya kak, Nina janji" kataku sambiL tersenyum

     Kak Ega membaLas senyumku dan menggenggam tanganku. Entah mengapa rasanya aku tak ingin kehiLangan dia. Dia ku anggap seperti kakak bagiku meskipun kami baru kenaL. Air mataku mengaLir di tengah senyumanku.

Tiba-tiba....

"Susteeerr... susteeerr... toLoong" teriakku panik sambiL memencet beL.

Ray berhambur keLuar mencari pertoLongan. Ibu kak Ega masuk dan menangis sambiL memegang tangan kak Ega. Aku panik meLihat kak Ega kejang-kejang, napasnya tersengaL-sengaL, wajahnya semakin pucat, badannya dingin seperti es. Aku takut, aku beLum siap kehiLangan kakak. Ray datang bersama dokter dan perawat.

"Kak, kakak kuat kak, kakak harus sembuh kak" kataku sambiL menangis
"Ga, kamu harus kuat Ga, buat keLuargamu, buat Lia, kamu harus sembuh Ga" kata Ray

Piiiipp piiipp piipp
monitor menunjukkan garis Luruuss

"Gaaaakk, kak Ega bangun kaakk, kak Ega gak boLeh pergii. Kakaaakkk !!!" jeritku
"Ega, kamu bangun nak, jangan tinggaLin mama nak" jerit ibu kak Ega

Dokter mengambiL aLat pacu jantung dan mencoba memacu jantung kak Ega.
Satu kaLi . .
Dua kaLi . .
Tiga kaLi . .
dokter menaruh aLat pacu jantung dan menggeLeng perLahan. Gak mungkin, ini gak mungkin, kak Ega masih bisa seLamat, pikirku. Dokter menarik seLimut dan menutup wajah kak Ega.

"Gaakk ! Kak Ega gak boLe pergii !!! Kak Ega gak boLeh tinggaLin Nina, kakaak bangun kak, kakaak banguunn !!!" jeritku sambiL mngguncang-guncang badan kakEga. Sia-sia.

Ray menarikku dan memeLukku dari beLakang. Tanganku masih menggenggam tangan kak Ega.

"Gak, gak mungkin. Kak Ega gak mungkin ninggaLin kita Ray. Gak mungkiinn, Kakaakk . ."

Mataku buram, makin Lama makin geLap dan aku terjatuh. Pingsan.
Ray menahan tubuhku agar tidak terjatuh. Ray menggendongku dan menaruhku di sofa. Ibu kak Ega masih menangis di samping jasad kak Ega, begitu juga keLuarganya. Tanganku masih menggenggam surat yang di berikan kak Ega.

      Aku membuka mataku. Ku Lihat sekeLiLingku. Hamparan padang rumput yang hijau, Luas sekaLi. Di mana aku? pikirku

"Nina" panggiL seseorang. Aku menoLeh
"Kak Ega? Kakaak" jeritku sambiL berLari menghampiri sosok itu

Kak Ega memeLukku. Dia terLihat tampan. Bajunya bersih putih. Aku tersenyum.

"Kakak ayo puLang" kataku
"Kakak gak bisa puLang" katanya sambiL tersenyum
"Di siniLah tempat kakak sekarang. Kakak ke sini mau minta toLong kamu" katanya
"minta toLong apa kak ?" tanyaku heran
"Kakak minta kamu jaga diri baik-baik. ToLong jagain keLuarga kakak. Jangan Lupa sampaikan surat dari kakak untuk Lia" katanya sambiL tersenyum
"pasti kak, Nina janji." kataku sambiL tersenyum
"Kakak harus pergi, waktu kakak gak banyak. Kamu jaga diri baik-baik."

      SeteLah mengatakan itu makin Lama kak Ega makin menjauh LaLu dia menghiLang di baLik cahaya yang sangat terang.

"Kakaakk !" jeritku LaLu aku terbangun.
Ku menoLeh ke ranjang rumah sakit. Kakak masih di situ. Ku berjaLan menghampirinya. Ray mencegahku. Ku tersenyum. Ray membiarkanku pergi namun tetap mengawasiku
Ku berdiri di samping jasad kak Ega. Ku genggam tangannya yang teLah memutih dan dingin.

"Nina janji, Nina akan berusaha meLakukan apa yang kakak minta. Nina janji akan memenuhi semua keinginan kakak" kataku

Ray mengahmpiriku dan memeLukku, aku menangis di daLam peLukannya.
Ku ingat surat yang tadi ku bawa, ku Lihat dengan seksama. Gak di Lem ataupun di beri perekat.
Ku ambiL sepucuk kertas dari daLam ampLop, ku buka dan ku baca.
Spontan air mataku mengaLir

Untuk yang tersayang Lia,


Terima kasih untuk bunga cinta yang teLah kau tanam
Terima kasih untuk mentari yang indah
Terima kasih untuk tawa dan canda
Terima kasih karena kau teLah memperLihatkan dunia yang sempurna di mata indahmu
Terima kasih untuk kehangatan cinta yang kau beri


Karnamu duniaku menjadi indah
Karnamu duniaku sempurna
Karnamu ku dapat kembaLi tersenyum di sisa hidupku
Berjuta kata terima kasih tak sebanding dengan semua yang teLah kau beri untukku


Maaf atas Luka yang ku gores
Maaf karena ku Lemah
Maaf karena ku ingkar janji
Maaf ku tak dapat Lagi berada di sisimu
Maaf atas penderitaan yang kau terima karenaku


Mungkin saat kau baca surat ini, ku tak dapat Lagi meLihatmu
Jaga dirimu baik-baik
Ku pergi namun ku akan tetap hidup di hatimu


Terima kasih untuk segaLanya
SeLamat tinggaL


Untuk yang ku cinta  Lia


                                Ega

Sepucuk Surat Untuk LIA -Part 2-

-Lanjutan Part 1-

"tapi kak Ega masi sakit gini, bahaya kaLo naik motor" kataku
"Gini aja, motor Ega biar aku yg bawa, Ega naik mobiL sama kamu, nih kuncinya" kata Ray sambiL menyerahkan kunci mobiL
"oke deeh, yuk kak" kataku sambiL refLek menggandeng tangan kak Ega

Ega hanya tersenyum dan tidak protes ketika aku menggandeng tangannya. Kami bertiga berjaLan menuju parkiran. Ray mengendarai motor miLik Ega sedangkan aku yang menyetir mobiL Ray. Kak Ega duduk d kursi depan d sampingku.
Aku menyetir dengan Kak Ega sbagai navigator, kuLihat Ray tepat d beLakang kami. Tak sampai 15 menit sampaiLah kami d rumah kak Ega.

"maaf rumah aku keciL" katanya maLu-maLu
"bagus kok, rapi dan nyaman" kataku sambiL tersenyum
"siLahkan masuk, tapi maaf hanya begini saja" katanya
"kak, kami masih ada acara, maaf kami gak bisa Lama-Lama d sini" kataku
"Oh begitu, ya sudah gak apa-apa. terima kasih udah d anterin, kaLian baik sekaLi" jawabnya
"Kami puLang duLu ya Ga" kata Ray
Ega mengangguk sambiL tersenyum dan meLambaikan tangan

    Aku dan Ray meLanjutkan perjaLanan puLang. LeLah rasanya seharian ini bepergian. Aku Langsung menuju kamar yang teLah disiapkan budhe untukku sesampainya di rumah. Jam dinding menunjukkan pukuL 3 sore. Aku ingin beristirahat sejenak meLepas LeLah. Kuputuskan untk tidur.

PukuL 18.00 WIB

     Hari teLah muLai maLam, kak Theo membangunkanku dan menyuruhku bergegas mandi. SeLesainya mandi aku menuju ke ruang keLuarga untuk berkumpuL bersama.
In the heat of....summer sunshine... I miss you .... Like no body eLse in . . .
terdengar ringtone dari The Corrs d HPku. Ada teLepon masuk, tapi siapa ini? no tak dikenaL, pikirku. Ah, sudahLah angkat saja, putusku.

"HaLo, benar ini nonya Nina?" tanya suara wanita di teLepon
"Benar, maaf ini siapa? ada apa ya?" tanyaku
"Dek Nina, saya ibunya Ega, saya minta toLong Nina ke rumah sakit sekarang? Ega masuk ruma sakit, sekarang kritis..."
"Tapi tante kak Ega sakit apa tante?"
"Terima kasih..."
"Tante, kak Ega sakit apa? haLo tante... haLo ..." bip bip bip. sambungan terputus

    Aku panik, tp juga bingung. Kak Ega sakit apa? kok kritis, berarti tadi pagi dia emang sakit. Tapi kok tiba-tiba ibunya neLfon aku? Tau no ak dari mana? Duh, ke rumah sakit gak ya? pikirku bingung.

"Nin, kamu knapa? kok bingung banget ?" tanya Ray
"Ray, ibunya kak Ega teLfon, katanya kak Ega kritis di rumah sakit, ibunya minta aku ke sana, gimana dong ?" tanyaku
"Ya udah ayo berangkat" kata Ray

      Aku bergegas mengganti pakaianku dan mengambiL tas. Bersama Ray meLuncur menuju rumah sakit. Aku geLisah, perasaanku gak enak. Ada apa ini? batinku. Ray menyentuh tanganku, ku menoLeh ke arahnya, dia tersenyum untuk menenangkanku. Aku beruntung punya sepupu sepertinya. Siapapun perempuan yang bersamanya dia beruntung. Aku membaLas senyumnya.
     Sesampainya di rumah sakit, aku bersama Ray bergegas masuk dan menuju informasi untuk menanyakan di mana kamar kak Ega. BeLum sempat kami bertanya, seorang ibu menghampiri kami.

"Nina ?" tanya ibu itu
"Benar tante, tante ibunya kak Ega?" tanyaku

     Ibu itu hanya mengangguk LaLu meminta kami mengikutinya. Ruang aster ku Lihat papan nama di depan pintu kamar itu. Ibu itu mempersiLakan kami masuk.
Aku menutup muLutku terkejut, tak terasa air mata menetes di pipiku kaLa aku memandang sosok itu. Sosok yang terbaring Lemah dengan seLang oksigen dan infus. Wajahnya pucat, matanya sayu menatapku. Senyum tersungging dari bibirnya kaLa meLihatku. Kak Ega. Ray merangkuLku untuk menenangkanku dan menuntunku berjaLan mendekati kak Ega. Ku duduk di samping kak Ega, tersenyum namun air mataku tak berhenti mengaLir.

"Adik kenapa nangis? kakak gak apa-apa" katanya sambiL mengusap air mataku
"Kakak sakit apa? kenapa gak biLang?" tanyaku
"Kakak gak mau bikin orang Lain sedih, hidup kakak gak akan Lama Lagi, kakak cuma ingin orang yang kakak sayang bahagia" katanya terbata-bata
"sssttt, kakak gak boLeh ngomong gitu, kakak pasti sembuh" sergahku

      Kak Ega hanya tersenyum mendengar apa yang aku katakan. Tangannya kemudian meraba Lemari untuk mengambiL sesuatu, sepucuk surat.

-----to be continue-----

12 Juli 2012

Sepucuk Surat Untuk LIA -Part 1-

       Mentari muLai menampakkan senyumnya ketika pagi datang, kubuka jendeLa kamar agar indahnya pagi dapat kuLihat dan sejuknya udara dapat kurasakan. Kunikmati indahnya pagi di kota Semarang yang panas.

"dek, temenin kakak k Kebumen yuuk" ajak kak Theo
"ngapain kak ke Kebumen?" tanyaku
"Loh, kamu gak tau budhe pindah ke Kebumen, kita nengok ke sana, Bunda yang minta" kata kak Theo
"oiya aku Lupa, kemarin Bunda uda biLang hehehe, berarti Ray juga di sana sekarang?"
"Iya, Ray sekarang di Kebumen." kata kak Theo
"Oke deh, aku mau siap-siap duLu kak" kataku

Kak Theo tersenyum LaLu keLuar dari kamar. Ku bergegas bersiap-siap, memasukkan baju ke koper keciL yg ku simpan di atas Lemari. Mandi, dan berganti baju. SeLesai semuanya ku keLuar dari kamar sembari menenteng koper menuju meja makan. Bunda menyiapkan roti isi cokLat untuk ku makan.

"udah siap?" tanya kak Theo
"udah kak, ayo berangkat." kataku
"Yuukk, biar gak kemaLeman nyampenya"

Ku bergegas pamit pada Ayah dan Bunda, menuju garasi. Yah, kali ini aku hanya bisa pergi dengan kak Theo karena Ayah, Bunda, dan Kak Dimas harus bekerja.
      Aku tertidur di daLam mobiL, hingga ku bangun ternyata mobiL sudah sampai di depan rumah budhe. Ku menoLeh ke arah kak Theo sambiL tersenyum Lebar dan mengacungkan dua jariku. Kak Theo hanya tertawa sambiL menggeLengkan kepaLa.
Budhe menyambut kami dengan hangat, rumahnya sederhana tapi sejuk dan rapi, rasanya nyaman berada di sini.

"Hai!" sapa seseorang.
"Raayy ! apa kabar? aku kangen ma kamu nih" jawabku sambiL memeLuk sepupuku itu
"Baik dong, haha , iya aku juga kangen ama kaLian, berdua doang nih?" tanyanya
"yuupp , biasa yang Lain kerja, cuma kita yang free." jawab kak Theo.
"Nin, temenin ke GaLaxy yuuk , mau cari boneka buat Icha" ajak Ray
"cieeciee, duuh yang Langgeng ma Icha , haha , okee deeh" jawabku sambiL sedikit menggoda Ray.

    Ray mengeLuarkan sedan mungiLnya, dan kita meLuncur ke GaLaxy MaLL, sebuah swaLayan yang terbesar di Kebumen. Tak terLaLu jauh ternyata dari rumah budhe.
Aku dan Ray Langsung menuju ke Lantai 3 tempat di mana souvenir, boneka di pajang di situ. Ray sibuk memiLih boneka sambiL sesekaLi bertanya padaku mana yang cocok untuk di berikan kpd Icha, aku hanya memandangnya sambiL sesekaLi tersenyum geLi meLihatnya sibuk memiLih boneka. Spontan ku ambiL boneka berbentuk kucing yang Lucu, ku berikan kpd Ray. Seingatku Ray pernah cerita kaLo Icha suka banget kucing.

"gimana kaLo ini? Icha suka banget kucing kan?" tanyaku
"bagus, pinter juga kamu miLihnya" jawab Ray smbiL mencubit pipiku
"hiisshh, apaan siihh? Lebay deh" kataku smbiL cemberut
"mendingan sekarang buruan deh dibayar, aku Laper tauu" kataku Lagi
"ngomong aja ayo makan, gitu aja susah, dasar gendut" katanya sambiL menuju ke kasir
"yee, biariin siriik" kataku sambiL mengikutinya

    Aku berjaLan di beLakang Ray menuju kasir, tiba-tiba pandanganku tertuju pada LeLaki yang sedang memiLih baju, tp bukan itu yg jadi perhatianku saat ini tp wajah cowok itu pucat, sepertinya dia sakit tp dia menahan rasa sakit itu. Refleks kakiku berjaLan menghampiri cowok itu. SeteLah sebeLumnya ku berbisik pada Ray supaya menungguku d food court. Ray pun mengangguk.

"mas, mas gak apa ? mas kenapa kok pucet banget?" tanyaku sambiL menyentuh pundak cowok itu
"Gak apa mbak, saya baik-baik saja" jawabnya sambiL tersenyum
"mas gak usah bohong sama saya, mas ini pucet banget, gak mungkin baik-baik aja, mas udah makan?" jawabku
"saya beLum makan mbak, tp bukan karna itu kok" jawabnya
"ya udah sekarang mas ikut saya aja" kataku sambiL meraih tangan cowok itu
"mau kemana mbak? udah mbak gak usah, terima kasih" katanya sambiL tersenyum
"mas gak boLeh noLak" kataku sambiL tersenyum

aku berjaLan menuju food court bersama cowok itu. Ku Lihat Ray teLah menungguku dengan sepiring french fries di meja. Ku minta cowok itu makan bersamaku dan Ray. Dia pun makan dengan sungkan. Aku dan Ray tersenyum.

     Sehabis makan ku Lihat wajah cowok itu tak sepucat tadi, ku merasa Lega dan senang. Ku menuju kasir untuk membayar pesanan kami dan kembaLi ke meja kami.

"terima kasih ya uda di temenin makan, aku Ega" katanya sambiL terseyum
"Aku Nina, dan ini sepupu aku Ray" kataku
"Kak Ega rumahnya dimana?"
"aku d Puri, aku bawa motor kok"

-----to be continue-----