Kampus Kijang? Di mana itu? Aku beLum pernah mendengarnya. Tapi ku yakin ini petunjuk keberadaan Lia. Tuhan, bantu kami. Kak bantu aku, kataku daLam hati. Ku segera mengambiL teLepon genggam dan mencoba menghubungi Conny.
"Con, aku dapet petunjuk di mana Lia kuLiah" kataku
"Di mana? terus rumahnya?"
"Dia udah pindah, tapi tadi ada anak keciL yang kasih tau aku di mana Lia kuLiah" jeLasku
"Bener kan dugaan gue, terus di mana?"
"Kampus Kijang" kataku
"Kampus Kijang?" tanyanya heran
"Tunggu gue di sana, Lo masih di tempat tadi kan? Gue sama Ray ke sana sekarang" katanya
"aku di taman deket tempat yang tadi" kataku sambiL menutup teLepon
Tak sampai 10 menit mereka sampai. Mereka keLihatan LeLah sekaLi. Ku ambiL botoL minum yang tadi ku bawa. Ku sodorkan kepada mereka. Mereka menerimanya dengan cepat dan meneguknya.
"Sorry ya guys, ngerepotin kaLian" kataku merasa bersaLah
"Lo nyante aja Nin, gue ngerti kok gimana jadi Lo, kaLau gue jadi Lo, gue juga bakaL ngLakuin haL yang sama." kata Conny
"Thanks Con" jawabku tersenyum
"Udah deh, terus gimana nih kampus Kijang?" tanya Ray
"Gue curiga itu bagian dari sebuah universitas, bukan universitas yang berdiri sendiri. Karena gue gak pernah denger nama universitas itu" kata Conny
"Aku juga berpikir gitu" kata Ray
"aahh, bego, kenapa gak googLing aja coba, cari di situ kampus kijang" kataku sambiL menepuk jidat.
"Lo bener Nin, oke bentar gue bawa tabLet, gue ambiL duLu di mobiL. Lo berdua coba googLing Lewat handphone" kata Conny sambiL berLari masuk mobiL
"Aku gak fuLL service Ray, kamu?" tanyaku
"Aku juga gak, kita tunggu Conny aja" jawabnya Lemas
"KaLian gak coba nyari?" tanyanya heran waktu kembaLi meLihatku dan Ray hanya duduk termenung
"Kita gak pakai fuLL service" kataku
"YaeLah, oke deh"
Beberapa menit kemudian....
"Ketemu ! Binus, kampus kijang bagian dari Universitas Bina Nusantara" kata Conny girang
"Di mana itu?" tanyaku cepat
"Gue rasa gak begitu jauh dari sini, masih di Jakarta Barat" katanya tersenyum girang
"SyukurLaah" kataku sambiL mengheLa napas Lega
Ray tersenyum Lega mendengarnya. Kita semua tersenyum senang. Ada titik terang keberadaan Lia.
"Tapi kita gak bisa nyari sekarang, hari udah muLai geLap" kata Ray
"Lo bener Ray. Gini aja, kita puLang duLu, istirahat, kita Lanjutkan besok Langsung ke Kampus Kijang" kata Conny
Aku hanya mengangguk, jujur aku ingin mecari hari ini juga. Namun aku sadar kita semua LeLah. Butuh istirahat. Dan akhirnya ku putuskan mengikuti mereka. PuLang dan meLanjukan pencarian besok.
Jakarta, 11 JuLi 2012
Mentari menyapa dengan sinarnya yang hangat. Hari ini aku, Ray, dan Conny akan meLanjutkan misi mencari Lia. Yah, kemarin kami menemukan titik terang keberadaan Lia. Kampus Kijang Universitas Bina Nusantara.
Kami teLah siap mencari. SeteLah mandi, bersiap, dan makan. Kami menuju garasi. Bertiga naik mobiL yang dikendarai Conny karena hanya dia yang tau kota Jakarta. KembaLi kami harus menempuh perjaLanan panjang karena seperti yang aku biLang, jauh dari rumah Conny. Hampir satu jam Lamanya kami menempuh perjaLanan. Tiba kami di kampus Kijang Binus. KembaLi kami berpencar. Dengan bekaL nama, aLamat rumah Lama kami bertanya pada setiap mahasiswa yang ada di situ.
Dua jam Lamanya kami mencari, nihiL. Kami putuskan beristirahat. Duduk di kursi taman yang ada di situ sembari menikmati bekaL yang kami bawa.
"Aku takut gak bisa memenuhi permintaan kak Ega" kataku
"Lo yakin pasti bisa, kaLaupun gak bisa, seenggaknya Lo udah berusaha sampai sejauh ini. Gue saLut sama Lo. Dan gue yakin Ega pasti ngerti." kata Conny
"Tapi gimana dengan keLuarga mas Ega di Kebumen? Mereka berharap banget sama kita" kataku Lemas
"Mereka pasti ngerti, seenggaknya kita semua udah berusaha" kata Ray
Aku termenung memikirkan kata-kata mereka. Semoga saja mereka mau mengerti. Karena jujur aku muLai putus asa. Kami sama sekaLi beLum menemukannya, ya menemukan Lia.
"Permisi" tiba-tiba di beLakangku terdengar suara cewek menyapa. Kami menoLeh.
"Iya, ada apa mbak?" tanyaku sambiL tersenyum
"Maaf tadi saya dengar kaLian nyebut nama Lia, Ega, dan Kebumen. Apa yang kaLian maksud Ega pacarnya Lia anak Binus ?" tanyanya
"Iya, mbak kenaL sama Lia?" tanya Ray
"Saya Lia" jawabnya sambiL menguLurkan tangan.
Kami terkejut, tak kusangka orang yang kami maksud datang sendiri kepada kami. Ku baLas jabat tangannya. Dia menjabat tangan kami satu persatu. Ku perhatikan sosoknya. Cantik. Anggun. Kak Ega hebat bisa mempunyai pacar sepertinya. Tapi kini geLisah menghampiriku. Bagaimana cara menyampaikan berita itu ke Lia? batinku.
"Ada apa kaLian mencari saya?" tanyanya ramah
"Begini kami mencari kamu mau menyampaikan pesan dari Ega." kata Ray, spontan ku genggam tangan Ray.
"Berita apa? kok kaLian tegang ?" tanyanya heran menatap kami satu persatu.
"Ehm, begini... kami.. ehm..." jawab Conny gugup
"Oke, begini saja, kita bicara di rumahku. Biar Lebih tenang. KebetuLan hari ini kuLiahku kosong. Aku ke kampus cuma mau ngumpuLin tugas." jawabnya
Kami bertiga mengikuti mobiL Lia menuju rumahnya. Tak begitu jauh dari kampusnya. Yah hanya sekitar 15 menit perjaLanan. Kami turun dari mobiL dan masuk ke rumah Lia. Dia menyambut kami dengan ramah.
"Ada apa sebenarnya kaLian mencariku?" tanyanya begitu kami semua duduk di ruang tamu.
Aku ceritakan kejadian dari awaL sampai akhir. Ku Lihat air mata muLai mengaLir di pipi Lia. Aku mati-matian menahan tangis.
"Gak mungkin, kaLian pasti saLah. Ega gak mungkin meninggaL" katanya sambiL menangis
"Kami gak saLah, aku dan Ray berada di sana. Dan kak Ega menitipkan surat ini padaku." kuserahkan surat yang ku bawa kepada Lia. Ku menoLeh, air mataku tak dapat Lagi kubendung. Ray merangkuLku.
Lia membaca surat itu, tangannya gemetar, air matanya deras mengaLir. Ku tak sanggup meLihatnya. Hatiku sakit. Ku teringat pada peristiwa itu, detik-detik menjeLang kepergian kakak. Aku menangis di bahu Ray, Conny membeLai rambutku untuk menenangkanku.
"Gak ! Gak mungkin ini terjadi ! Gaakk, Egaaa, kamu gak boLeh ninggaLin akuu ! Egaaa !!!" jeritnya histeris.
Tiba-tiba BRUKK !!!
"Liaaa !" Conny menjerit. Lia pingsan.
"Li, bangun Li. Liaa sadar" kata Conny.
Ku ambiL minyak kayu putih dari daLam tasku. Ku dekatkan pada hidung Lia. Lia muLai tersadar.
"Egaa !" jerit Lia terbangun.
"Ega mana? Ega di mana? Egaa, mana diaa? dia masih hidup kan? dia masih hidup kan? JAWAB !" bentaknya
"Li, sadar Li, Ega udah gak ada, kita ke sini mau nyampaiin pesan dari Ega buat Lo" kata Conny
"Gak mungkin, Ega gak mungkin pergi ninggaLin gue Con, gak mungkin" kata Lia sambiL menangis
Sementara aku tak sanggup berkata-ata Lagi, ku hanya bisa menangis. Ku dapat merasakan kepedihan yang dirasakan Lia. Ray memeLukku. Sementara Conny menenangkan Lia.
"Li, kita ke sini mau menyampaikan pesan dari kakak untuk kamu, kita gak ada maksud Lain" kataku sambiL terisak
"Iya Li, sekarang kamu tenangin diri kamu duLu." kata Conny
Conny dan Ray menuntun Lia masuk ke kamar untuk menenangkan diri. Aku mengikuti mereka. Ku bantu Conny dan Ray membaringkan Lia ke tempat tidurnya. Lia masih terLihat shock, badannya Lemas, dingin, dan pucat. Ku ambiL air minum dari dapur, dan sepiring nasi yang tersedia di meja makan. Ku sodorkan pada Conny, ku minta Conny untuk menyuapi Lia, karena nampaknya Lia masih marah padaku.
Lia tertidur seteLah makan, nampaknya dia muLai tenang. Aku, Conny, dan Ray tampaknya harus berdiam di sini sampai Lia terbangun. Aku khawatir dia akan histeris Lagi kaLau bangun dan ingat apa yang terjadi hari ini. Aku meLihat sekeLiLing kamar Lia. Begitu banyak foto dia bersama kakak yang terpasang di dinding dan meja kamarnya. Aku tersenyum sedih. Ku ambiL sebuah foto dan ku pandangi. Mereka terLihat serasi, sayang kakak harus pergi secepat ini.
"Lia uda tidur,sebaiknya kita keLuar, biar Conny yang menemaninya" kata Ray
"Oke" kataku sambiL menganggukan kepaLa
Aku dan Ray menunggu di Luar. Udara di ruangan ini dingin karena AC yang menyaLa, tanpa terasa aku tertidur karena keLeLahan. Kami semua terLeLap karena LeLah. LeLah karena semua yang terjadi sampai hari ini.
Tiba-tiba Conny membangunkanku dan Ray. Kami bangun dan meLihat sekeLiLing. Hari muLai geLap, nampaknya kami harus segera puLang sebeLum ada yang mencari kami.
"Lia mencari kaLian" kata Conny
Aku menoLeh pada Ray. Ray menganggukan kepaLa. Bertiga berjaLan menuju kamar Lia.
"Aku bermimpi bertemu Ega" kata Lia tiba-tiba
"Dia memintaku menjaga diri, dan dia memintaku menjagamu, adiknya" kata Lia sambiL menatapku. Tanpa sadar butiran air mata menetes di pipiku.
"Maaf, aku sudah membentakmu, aku menyaLahkanmu atas apa yang terjadi. Aku tidak bisa menerima semua ini. Menerima kenyataan bahwa Ega meninggaLkanku untuk seLamanya" katanya sambiL terisak.
Spontan aku menghampirinya dan memeLuknya. Aku sangat mengerti yang dirasakan Lia. Bahkan aku sendiri sampai saat ini sebenarnya masih tidak bisa mempercayai kenyataan bahwa Kak Ega teLah meninggaLkan kami seLamanya.
"Gak apa Li, aku mengerti apa yang kamu rasakan. Maafin aku uga karena membawa kabar ini tiba-tiba" kataku.
"Iya. Aku ingin kamu mengabuLkan satu keinginanku, bisa?" pintanya
"Apa?"
"Bawa aku ke Kebumen. Ke tempat peristirahatan Ega yang terakhir" pintanya
"BaikLah, kami akan membawamu ke sana" kata Ray
Aku menoLeh pada Ray, dia tersenyum dan mengangguk. Aku tersenyum. Aku menoLeh pada Lia dan tersenyum padanya. Dia memeLukku.
Kami berangkat ke Kebumen esok harinya. KaLi ini bersama Lia dan Conny. Kami terbang ke jogja dan seLanjutnya menuju ke Kebumen. Hampir satu hari perjaLanan, sampaiLah kami di rumah budhe.
"Ini rumah Ray, kita beristirahat di sini sebentar, seteLah itu baru kita menuju makam" kataku
"KaLian minum dan makan ini duLu, biar ada tenaga" kata budhe sambiL menaruh beberapa geLas air minum dan sepiring kue
"terimakasih bu" kata Lia
Puas beristirahat, berempat menuju ke makam kak Ega. Dengan naik mobiL yang di kendarai Ray, kami menuju ke sana. Ku bawa sekeranjang keciL bunga untuk di taburkan ke makam kakak. Ku genggam tangan Lia dan ku tersenyum, mencoba menguatkannya dan menguatkan diriku sendiri. Dia menoLeh dan tersenyum. Tak Lama kemudian, sampaiLah kami ke makam kakak. Sampai di tempat Lia bersimpuh dan menangis. Untuk kesekian kaLinya air mataku mengaLir. KupeLuk Lia, mencoba menenangkannya. Ku sodorkan keranjang berisi bunga. Dia mengambiL dan menaburkannya.
Aku berdiri dan mendekati Ray yang berdiri tak jauh dari situ. Ray merangkuLku dan tersenyum. Ku menoLeh ke arah sudut dekat nisan kakak. Ku menangkap sesosok bayangan putih di sana. Ku mengerjapkan mataku. Sesosok LeLaki berdiri dengan baju putih yang bersinar, wajahnya berseri-seri menatap Lia. Ku pastikan pandanganku. Ku terkejut.
Itu kakak, ya tak saLah Lagi itu sosok kakak.
Pandanganku tak Lepas darinya. Kakak hadir! Kakak di sini! ingin rasanya ku bereriak, namun muLutku terkunci. Tiba-tiba sosok itu menoLeh padaku dan tersenyum. MenghiLang, sosok itu menghiLang seteLah dia tersenyum padaku.
"Kakak" kataku sambiL tersenyum, hanya kata itu yang mampu kuucapkan
"Nin, kamu kenapa? Nin?" kata Ray sambiL mengguncang bahuku
Aku tersadar
"Hah? Oh iya, aku gak apa kok, cuma tadi meLamun" kataku
Lia dan Conny menghampiriku. Dia memeLukku dan tersenyum. Matanya mengatakan terimakasih namun bibirnya tak mampu mengucapkan. Aku tersenyum dan mengangguk. Ray mengajak kami puLang. Kami berempat berjaLan menuju parkiran. Aku menoLeh ke arah makam kakak.
SeLamat jaLan kakak, beristirahat yang tenang. Kakak seLaLu ada di hati kami semua.
SeLamat jaLan kak Ega, batinku.