Halaman

1 Juli 2013

Rindu

saat rasa rindu datang, bertumpuk menjadi satu
apa yang harus ku lakukan ?
rindu yang tak tersampaikan
namun tak terbendung
dapatkah kau mendengarnya?
dapatkah merpati membawa sepucuk rinduku ?
dapatkah angin katakan rinduku ?
atau langit ?
malam, atau siang ?
ataukah sang bintang ?
siapa ?
tidak, bukan mereka
namun kalbuku akan menyampaikan sendiri rasa rindu ini
melalui tintaku
rangkaian syair indah yang ku tulis hanya untukmu

Terima Kasihku Pada-Mu

ku berdiri di muka rumah
ku termenung menatap hijaunya tumbuhan di muka rumah
semburat cahaya menyinari wajahku
di tepi barat ku lihat sang surya tersenyum seakan berbisik mengucapkan 'sampai jumpa esok hari kawan'
sinarnya indah menghiasi cakrawala
ku lihat sang rembulan dan bintang datang menggantikan sang surya
sinarnya gemerlap bagaikan pelita yang sinari kelamnya malam
aku tersenyum melihat keindahan duniaku
perlahan ku pejamkan mataku dan berbisik 'terima kasih, Kau masih ijinkan diriku melihat indah nan agung karyaMu'

21 Juni 2013

Teruntuk Kamu

Senja datang menghampiri
gulitanya hiasi permadani langit
birunya tenggelam ditelan hitam
bintang tersenyum hiasi langit
kerlipnya terangi malam
bertabur indah bagaikan kunang-kunang
Indah nian malam ini
namun tak seindah hati ini
sendu menyelimuti, meluap tak terbendung
namun,
semua seakan hilang begitu saja
begitu kudengar suaramu, melayang di udara
senyum tersungging dari bibirku
hati terlonjak bahagia begitu menerima pesan darimu
tak kurasa sendiri lagi
belum pernah ku menatap wajahmu
melihat senyummu, tawamu
namun langit malam seakan melukiskan semuanya
belum pernah kurasakan hangatnya dirimu
namun angin seakan membawa hangatnya dirimu
kau tak ada di sampingku
tapi ku rasa hadirnya dirimu di sisiku
terima kasihku untukmu
sahabat penaku
malaikat tanpa sayapku

13 Juni 2013

Antares Tania yang Hilang - Part 2 -

Pukul 08.00 WIB, Rumah Keluarga Hadiprawiro
KRIINNGG !
Bi Ipah berlari kecil menuju telepon yang berdering.
“Halo, dengan kediaman keluarga Hadiprawiro di sini”
Bi Ipah terdiam sejenak mendengarkan suara orang berbicara di seberang sana. Tiba-tiba raut mukanya berubah.
“Ada apa, Bi? Kok bibi terkejut?” tanya Mama Tania.
“Ini, Bu, ini.. non Tania.. non Tania.. dia.. dia” jawab Bi Ipah terbata-bata.
“Kenapa, Bi? Tania kenapa?” mendadak wajah Mama Tania panik, dia menerima telepon yang diberikan Bi Ipah.
Wanita itu mendengarkan orang yang sedang berbicara dengannya di seberang sana. Wajahnya terkejut, tangannya menutup mulutnya. Air matannya mengalir.
“Iya, Mang. Iya, terima kasih. Kami akan segera ke sana. Mang Kus jangan pergi ke mana-mana” Katanya sambil terisak, lalu menutup telepon. Tangannya gemetar.
“Ada apa, Ma? Bi? Ko kalian menangis?” tanya Papa Tania heran.
“Tania Pa, Tania... Tania.. dia kecelakaan, dia tertabrak mobil, dan sekarang dia di rumah sakit” jawab wanita itu sambil menangis di pelukan suaminya. Pria itu terkejut.
“Di mana, Ma? Di mana Tania sekarang?” tanya pria itu cepat.
“Dia di rumah sakit Elisabeth, Pa. Mang Kus yang bawa Tania ke sana” katanya sambil terisak.
“Ayo kita ke sana sekarang, ayo Bi” kata pria itu sambil membimbing istrinya diikuti Bi Ipah menuju mobil dan bergegas menuju rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, mereka langsung menuju ke Unit Gawat Darurat. Mereka melihat Mang Kus terduduk lemas di kursi depan kamar Tania.
“Mang Kus! Bagaimana keadaan Tania Mang?” tanya Mama Tania cepat.
“Anu nyonya, non Tania sedang diperiksa dokter, keadaannya parah nyonya. Dokter meminta saya berdoa dan menunggu hasilnya” kata Mang Kus sambil tertunduk.
Seketika tangis terdengar menggema di lorong itu. Papa Tania memeluk istrinya dan menenangkannya. Bi Ipah berdiri di sebelah Mang Kus juga menangis. Tak lama pintu ruang UGD terbuka, dokter yang merawat Tania keluar selesai memeriksa keadaan Tania.
“Bagaimana dok, bagaimana keadaan anak saya dok?” tanya Mama Tania.
“Anak Bapak dan Ibu mengalami cedera yang cukup parah di bagian kepala akibat benturan yang di alaminya, saya khawatir benturan itu menyebabkan gegar otak yang cukup serius. Dan bisa saja membuat dia mengalami amnesia. Selain itu ada retak kecil di tulang kakinya. Untuk sementara anak Bapak dan Ibu akan kami pindahkan ke ruang ICU untuk penanganan yang lebih intensif” kata Dokter.
Seketika suara tangis kembali memenuhi lorong. Papa Tania berusaha tegar dan menenangkan istrinya yang menangis histeris. Sementara Mang Kus coba menenangkan Bi Ipah.

Pukul 11.00 WIB di Kediaman Keluarga Hardjoloekito
Sayup-sayup terdengar alunan musik dan suara seorang gadis dari arah lantai dua. Amel sedang bersantai di dalam kamarnya sambil bernyanyi mengikuti alunan lagu. Suara musik cukup keras sehingga dia tak mendengar handphonenya berdering. Stelah beberapa kali berdering barulah Amel mendengar suara dering HPnya, segera dia mematikan DVDnya dan meraih HP yang tergeletak di tempat tidur.
“Halo” sapa Amel pada orang yang menghubunginya.
“Amel, ini tante Mel, mamanya Tania” terdengar suara dari seberang sana.
“Oh tante, ada apa, Tan?” tanya Amel
“Tante minta kamu ke rumah sakit Elisabeth sekarang bisa? Tania kecelakaan, sekarang dia di ICU, dia koma” terdengar suara isak tangis Mama Tania.
Amel terkejut bukan main. Tubuhnya terasa kaku seketika setelah dia mendengar kabar buruk tentang sahabat yang paling dia sayangi itu.
“I..iya Tan. Amel ke sana sekarang”
Bergegas dia mengambil kunci mobil dan dompetnya yang tergeletak di meja belajarnya. Berlari dia menuju mobil dan segera menuju rumah sakit. Amel langsung menuju ruang ICU begitu dia sampai di rumah sakit. Dia melihat Mang Kus dan Bi Ipah di luar ruangan.
“Mang Kus, Bi Ipah, gimana Tania? Di mana dia, Bi?” tanya Amel panik.
“Non Tania ada di dalem, ada Ibu dan Bapak juga. Non Amel masuk saja” kata Mang Kus.
Perlahan Tania masuk. Perlahan dia mendekati ranjangrumah sakit tempat Tania terbaring. Tangannya terkatup di mulutnya. Dia melihat selang oksigen, selang infus di tubuh Tania, juga monitor detak jantung yang memonitor laju detak jantung Tania. Seketika air matanya mengalir. Mama dan Papa Tania tersenyum melihat kedatangannya.
Tania keluar dari ruangan, dan duduk di sebelah Bi Ipah. Dia menangis sejadinya. Spontan Bi Ipah memeluk sahabat nona mudanya itu.
“Tenang non Amel, tenang” kata Bi Ipah sambil terisak.
“Sebenarnya ada apa, Bi? Apa yang terjadi pada Tania sampai dia harus mengalami ini semua?” tanya Amel di sela-sela tangisnya.
“Bibi gak tau non, Mang Kus yang ada di sana, Mang Kus yang bawa non Tania ke rumah sakit.” Jawab Bi Ipah. Amel mengarahkan pendangannya ke Mang Kus dengan pandangan bertanya.
“Iya non. Mang nganter non Tania ke rumah Den Dika” dan mengalirlah cerita dari mulut Mang Kus tentang kejadian tadi pagi.
Rahang Amel mengeras, tangannya mengepal menahan emosinya yang siap meledak.
“Dika brengsek! Sialan tuh orang, aku harus temui dia!” kata Amel dan berdiri hendak pergi, namun tangan Mang Kus mencegahnya.
“Tenang non, non Amel gak bisa nemuin Den Dika, dia sudah berangkat ke Amerika, Non.” Kata Mang Kus.
“Terus Amel harus gimana Mang? Amel harus ngeliat Tania terbaring koma di ICU sementara Dika senang-senang di negeri orang gitu? Amel gak bisa Mang, Tania sahabat Amel, Amel gak sanggup liat dia dalam keadaan kayak gini” kata Amel sambil menangis.
“Non Amel, ini Mang Kus ambil dari genggaman tangan non Tania setelah kecelakaan. Mang gak tau ini apa, tapi sepertinya ini berharga banget buat non Tania” kata Mang Kus sambil menyerahkan benda itu.
“Antares.” Kata Amel pelan, perlahan air matanya makin deras mengalir.

Antares Tania yang Hilang - Part 1 -

Mentari pancarkan senyumnya, langit berwarna biru cerah, menambah cerahnya hari ini. Seorang gadis sudah sibuk di dapur sejak pagi tadi, dia tampak mempersiapkan sesuatu  seperti bekal. Dengan dibantu Bi Ipah yang sudah lama bekerja pada keluarga mereka. Tania nama gadis itu, dengan cekatan dan tampak seperti seorang ahli membuat sandwich.
Begitu bekal jadi, Tania bergegas masuk ke kamar untuk bersiap, tak ada yang tahu apa yang direncanakan gadis itu di hari Minggu ini. Tak lama gadis itu sudah keluar kamar dengan gaya seperti orang yang hendak pergi jalan-jalan. Senyum selalu muncul di wajah manisnya, memperlihatkan lesung pipi di kedua sudut bibirnya.
“Wah, pagi-pagi begini kamu kok udah rapi begini sih sayang? Cantik, wangi lagi. Mau ke mana hayo?” tanya mamanya yang baru saja keluar kamar.
“Mau tau aja sih mama, rahasia” katanya sambil tertawa.
“Jadi gitu, mulai main rahasia nih sama papa mama?” sahut papanya tiba-tiba.
“Ih papa juga mau tau aja deh, pokoknya rahasia” katanya sambil nyengir.
“Dasar kamu, ya sudah, tapi kamu perginya hati-hati ya” kata papa sambil menyentil hidungnya
“Iya Pa, udah ah Tania mau pergi dulu, daaahh Papa, Mama” katanya sambil mengecup pipi Papa Mamanya
Tania keluar menuju mobilnya, Mang Kus, supirnya telah siap mengantar nona mudanya itu. Mobil meluncur menyusuri jalanan Semarang pagi hari, Tania menikmati pemandangan yang di lewatinya.
Namun pemandangan yang dilihat Tania berikutnya sama sekali di luar bayangan dan yang tak pernah dia pikirkan. Sesaat sebelum sampai ke tempat tujuannya, dia melihat seorang lelaki berjalan dengan tangannya memegang koper, di belakangnya sepasang suami istri mengikutinya, juga membawa koper. Tania melesat keluar dari mobil dan berlari.
“Dikaaa!” teriaknya memanggil laki-laki itu.
“Tania? Tan, ngapain kamu di sini?” tanyanya terkejut.
“Aku yang harusnya tanya kamu, ada apa ini? Kamu mau ke mana? Dan kenapa bawa koper?” tanya Tania bingung, perasaannya tidak enak, hatinya tak tenang.
“Aku harus pergi Tan, aku akan ke Amerika. Aku harus pindah ke sana”, kata Dika sambil tertunduk.
“Apa? Amerika? Dika, kenapa kamu gak pernah cerita? Kenapa begitu mendadak?” berondong Tania.
“Ma.. maaf, aku juga gak tau, ayah dipindah kerjakan ke sana, dan harus secepatnya pindah, maafin aku, Tan” kata Dika sambil tertunduk.
“Tapi kenapa harus secepat ini? Tapi kamu balik ke sini kan? Iya kan? Dik?” sambar Tania cepat, tak terasa air matanya mengalir.
“Tan, maaf, aku juga gak tau kapan akan balik ke Semarang lagi, Tan, maafin aku, aku bener-bener minta maaf” jawab Dika sambil memeluk Tania.
“Kamu jahat Dik, kamu ninggalin aku. Kamu ingkarin janji kamu buat gak ninggalin aku Dik, kamu jahat!” kata Tania sambil terisak.
“Dika, ayo nak. Nanti kita ketinggalan pesawat” kata Bunda Dika.
Dika melepaskan pelukannya dan mengecup kening Tania. Tangannya terulur memberikan sesuatu pada Tania. Bola kaca yang indah. Terdapat ratusan bintang dan sebuah bintang yang paling terang di dalamnya. Dika berbalik dan melangkah menuju mobil. Tak terasa air matanya menetes, cepat dia mengusapnya. Dia tak mau Tania melihatnya. Dika masuk ke mobil yang akan membawanya ke bandara. Mobil melaju perlahan.
Tania terpaku menatap bola kaca itu di tangannya. Antares, batin Tania. Air matanya mengalir makin deras, dia melihat mobil itu makin menjauh. Tania segera mengejarnya
“Dikaaa ! Dikaaa, jangan tinggalin aku Dikaa!” teriak Tania sambil mengejar mobil yang dinaiki keluarga Dika. Tanpa sadar tangannya masih membawa kotak bekal berisi sandwich dan bola kaca pemberian kekasihnya itu.
Tania berlari mengejar mobil itu. Namun tanpa gadis itu sadari, dari arah kanan ada mobil melaju dengan kencangnya.
TIINN TIIIINNN !!! bunyi klakson mobil tersebut. Tania menoleh dan terkejut.
“Aaaaaaa” terdengar jerit pilu seorang gadis
BRUUKK !
             Terlambat. Bagian muka mobil dengan cepat menyambar tubuh Tania. Badannya tersungkur. Darah mengalir dari kepalanya yang membentur aspal. Kotak bekal yang di bawanya terpental dan membuat sandwich yang dibuatnya berceceran di jalan. Juga bola kaca yang indah tadi hancur berkeping-keping. Hanya satu yang tertinggal di tangan Tania. Antares.

6 Juni 2013

Mata Hati Seorang Saksi

ada apa dgn kalian ?
saling memendam
tanpa biarkan mereka tau apa yg sbnrnya kalian rasa
kalian memiliki rasa yang satu
aku tau itu
berdua tak bisa selamanya memendam
terkurung dalam rasa yang tak terungkap
menahan pedihnya rindu yang tertahan
sampai kapan ?
kalian tak tau kapan sang waktu akan tiba
yang akan memaksa kalian keluar dari pedihnya rindu
dan ungkapkan rasa yang ada
kalian satu rasa, aku tau itu
hanya saja seorang dari kalian masi terkubur dalam kenangan
dan biarkan dirinya terhisap dalam kenangan
tarik dia keluar
sebelum pusaran menariknya semakin kuat
jadikan rasa itu sebagai kekuatan kalian untuk bersatu melawan waktu
rasa kalian yang satu
cinta , ya cinta
yang terpendam jauh di lubuk hati kalian berdua

by : Inez

4 Juni 2013

A Piece of Word ?

kesabaran itu tanpa batas
yang membatasi kesabaran itu adalah ego masing-masing pribadi

jangan menilai orang dari satu sisi
karena apa yang kita lihat belum tentu sesuai kenyataan yang ada

jika kamu ingin dunia menerimamu apa adanya
terimalah dirimu sendiri apapun keadaannya

benahilah dirimu sendiri
sebelum kamu melangkah membenahi dunia

sabar itu tak berbalas
orang yang sabar tak punya niat menyakiti orang yang sudah menyakiti kita

jadilah seperti kerang
dia dilukai berulang kali, disakiti
namun dia menghasilkan sebuah mutiara yang indah

2 Juni 2013

Kataku Untukmu

kau datang padaku dengan senyum manis
seakan-akan aku ini berharga bagimu
ku sambut kau dengan senyum
dengan sepenuh hati
kita bersenda gurau, berbagi tawa dan canda
kau buat hidupku berwarna

namun
kau hancurkan kebahagiaan itu dalam sekejap
kau hempaskan aku ke dasar jurang
hati ini sakit, hancur tak terbentuk
namun kau tak menyadari semua yang ku rasakan

aku menghilang, namun kau tak juga mencariku
aku pergi, menyendiri untuk menata hatiku yang hancur
tapi aku tak tau, mengapa aku selalu bisa memaafkanmu
mungkinkah ini karena cinta?

waktu terus berlalu, perlahan ingatan tentangmu tak lagi mengusikku
hatiku merasa damai, meskipun masih tersisa sesak di dada
namun tak kupedulikan rasa itu

di saat hati ini tenang, kau hadir kembali
mengusik hatiku, membuka kembali memori yang ku kubur
kau berikan lagi tawa itu, senyum itu
dan kau juga berikan lagi luka itu

aku mengutuk kelemahanku sendiri
yang tak mampu menolakmu ketika kau datang kembali
yang tak mampu mengusir bayang-bayangmu
aku mengutuk diriku sendiri
yang masih mencintaimu
meskipun hanya luka yang kau beri

berulang kali kau selalu begitu
kau datang, lalu pergi begitu saja
kau katakan pada dunia kau mencintaiku
dan duniapun mengatakan padaku
angin berbisik lembut, menyampaikan kata cintamu
burung-burung bernyanyi, seolah melagukan nada-nada cinta

namun itu semua hanya kebohongan semata
kau berkata pada dunia bahwa kau mencintaiku
namun kau tak pernah mengatakannya padaku
kau mengatakannya pada makhluk indah lain
tak taukah kau betapa sakitnya aku?
betapa dalamnya luka yang telah kau gores?

dan kini kau seolah menyalahkanku
kau berkata pada dunia bahwa kau mencintaiku
tapi tak ada balasan dariku
lalu apa arti perhatianku selama ini bagimu?
apa arti marahku? apa arti cemburuku selama ini?

kini kau telah bersama dengan yang lain
ku terima dengan senyum
aku tak tau mengapa hati ini selalu bisa memaafkanmu
selalu jika kau menyakitiku

bahagialah dengannya, jangan pedulikan aku
jangan pernah lepaskan dia, karena aku yakin dialah yang terbaik untukmu
yang mampu memberikan apa yang kau butuhkan
tak hanya kasih sayang
namun juga seseorang yang mengerti isi hatimu tanpa kau harus mengatakannya

satu yang kau perlu tau
aku akan tetap di sini
mencintaimu, selalu
meskipun kau tak akan pernah menyadarinya

         by : Inez

Kata Hati Sang Cinta

Ketika fisik berbicara
Cinta bertanya pada Sang Empunya, "masihkah aku diharapkan?"
Sang Empunya hanya tersenyum dan menatapnya iba

Ketika harta berbicara
Cinta bertanya pada Sang Empunya, "masihkah aku diperlukan?"
Sang Empunya hanya tersenyum dan menatapnya iba

Ketika jabatan berbicara
Cinta bertanya pada Sang Empunya, "masihkah aku diinginkan?"
Sang Empunya hanya tersenyum dan menatapnya iba

Ketika Cinta tergantikan oleh kemewahan dunia
Cinta bertanya pada Sang Empunya, "masihkah aku di butuhkan?"
Sang Empunya menatap lembut pada Cinta dan berkata,
"Kau masih dibutuhkan oleh semua makhluk di bumi, manusia masih memerlukanmu, karena tidak ada kehidupan tanpa dirimu"
"Tapi mengapa mereka mengabaikanku dan menganggap seolah-olah aku tidak berharga?" Cinta bertanya pada Sang Empunya dan terisak
Sang Empunya tersenyum dan berkata,
"Akan ada saatnya mereka menyadari betapa berharganya dirimu, dan mereka akan menyadari mereka tak bisa hidup tanpa dirimu"

                            by : Inez

14 Februari 2013

Happy Valentine !

Hari ini tanggal 14 Februari merupakan hari yang di tunggu banyak orang
Mengapa?
Pasti semua tau jawabannya
Yakk tepat sekali, karena pada hari ini semua orang merayakan Hari Kasih Sayang yang biasa di sebut Valentines Day
Semua terasa sepsial pada hari ini, yang berpasangan berusaha mati-matian tampil se-perfect mungkin untuk nge-date bersama kekasih tentunya
Lantas yang single?
Single bukan berarti gak bisa ngrayain Valentine juga loh
Inget, kasih sayang tidak hanya di tunjukan pada hari itu saja
Setiap hari kita bisa menunjukkannya ke siapa saja

           Because No Life without Love
                           So...
              Live your Life with Love
           Happy
     Valentines Day


13 Februari 2013

Mawar Putih Untuk Lia - The Last -


Esok harinya,mereka berlima berangkat menuju Kebumen. Di Jogja, Brian, pacar Nina sudah menanti mereka di bandara. Bersama Ray, Nina, Icha, Reza, Conny, dan Brian, Lia dan Dicky mengunjungi makam Ega. Mereka membawa rangkaian bunga dan mendoakan arwah Ega. Lia bersimpuh, di sebelahnya bersimpuh Dicky.
Hai Ega, aku datang. Maaf aku baru datang lagi. Kamu apa kabar? Aku kangen kamu. Oh iya, aku mau ngenalin ke kamu, dia Dicky, orang yang kamu kirim buat aku, kata Lia sambil tersenyum. Hai Ga, aku Dicky, aku ingin meminta ijin dari kamu untuk menggantikan kamu menjaga Lia. Aku sayang Lia. Aku janji akan jagain Lia, dan aku gak akan nyakitin dia. Aku berdoa supaya kamu tenang di sana, kata Dicky. Dicky tersenyum sembari merangkul Lia yang juga tersenyum bahagia.
Nina berdiri di belakang Lia. Tiba-tiba matanya menangkap sosok bayangan putih di sudut makam dekat Lia. Sosok itu tersenyum. Nina menutup mulutnya terkejut. Itu kakak, kakak hadir! Jeritnya dalam hati. Kakak merestui mereka, batinnya. Tiba-tiba sosok itu menatap dirinya, dia mengangguk dan tersenyum. Kemudian menghilang.
Kakak merestui kalian berdua, kata Nina sambil tersenyum. Semua menatap Nina heran. Kakak merestui kalian, dan dia sudah bahagia di atas sana, katanya lagi. Tadi kakak hadir di sini, aku melihatnya”, katanya lirih.
Lia terkejut, air matanya mengalir. Dia menghampiri Nina, dan memeluknya. Nina hanya tersenyum dan menatap semuanya, bahagia. Dia maju, bersimpuh di samping makam Ega Kakak, Lia udah nemuin pangerannya yang aku yakin Tuhan kirim untuk menemani Lia, kakak bahagia di atas sana seperti kita bahagia di sini, kata Nina sambil tersenyum. Ega, terima kasih, Ega, kata Lia sambil terisak. Thanks Ega, kata Dicky. Seusai berdoa mereka pulang dengan senyum dan hati bahagia.
Hari Valentine, hari yang penuh cinta ini membawa kebahagiaan bagi semuanya. Mereka berkumpul bersama dalam kebahagiaan di kediaman keluarga Ray. Bersama Ibu, dan kakak Ray, Ray dan Icha, Nina dan Brian, Conny dan Reza, serta Dicky dan Lia. Semua tersenyum bahagia di hari ini.

Mawar Putih Untuk Lia - Part 4 -


Tanpa mereka sadari dua pasang mata menatap mereka dari balik jendela sambil tersenyum bahagia. Ray dan Nina tersenyum melihat adegan tersebut. Akhirnya ya Ray, Lia mau membuka hatinya, kata Nina di balas anggukan dan senyuman dari Ray. Nina tersenyum, mendadak sesuatu terlintas di otaknya. Dengan tiba-tiba dia menarik tangan Ray dan mengajaknya menuju ke gazebo tempat Lia dan Dicky berada. Hei, hei Nin, kamu mau ke mana?, tanya Ray terkejut karena tiba-tiba Nina menariknya. Nina tak menjawab petanyaan Ray. Haaiii !, teriak Nina mengagetkan Dicky dan Lia. Spontan mereka melepas pelukan mereka, dan Lia mengusap air matanya.
Kamu apa-apaan sih Nin, ngagetin aja, kata Lia
Ngagetin apa ngagetin? Hahaha, maaf deh kalo ganggu, kata Nina jail.
        Nina berjalan menghampiri Lia dan memeluknya. Lia terkejut dengan tindakan Nina yang tiba-tiba memeluknya. Aku senang akhirnya kamu bisa membuka hati kamu, semoga dia memang orang yang tepat, bisik Nina. Lia hanya tersenyum dan memeluk Nina.
Ciee, Lia, duuhh akhirnya punya pacar juga setelah setahun ngejomblo, kata Conny yang tiba-tiba datang. Semua hanya tertawa. Dicky dan Lia tersipu malu. pasangan baru, masih malu-malu kucing, celetuk Ray tiba-tiba. kamu apaan sih Ray, ternyata kamu bisa ngeledek juga yaa, kata Lia sambil pura-pura cemberut. Yang lain hanya tertawa menanggapinya.
Guys, aku punya satu permintaan, kata Dicky tiba-tiba. Semuanya saling pandang. Mereka bertanya-tanya.
Permintaan apa?, tanya Ray
Aku ingin mengunjungi makam Ega, aku ingin menyampaikan sesuatu padanya, kata Dicky. Tapi itu kalau kalian mau menemaniku, kalau tidak ya mungkin bisa lain kali, kata Dicky lagi. Semua tampak diam berpikir.
kamu mau ke sana kapan Dick?,tanya Conny. Secepatnya, sahut Dicky mantap. Lia hanya terdiam menatap Dicky. Apa maksud dia? tanyanya dalam hati. Dicky hanya tersenyum menatapnya.
Oke, bagaimana kalau besok? Rencana aku juga akan pulang ke Kebumen. Conny akan mengantarku sampai bandara. Naik pesawat sampai Jogja, kemudian naik mobil ke Kebumen, kata Ray.
Iya Dick, sekalian aja, gimana? Tapi aku dan Ray berangkat pagi, sahut Nina. Dicky terdiam, berpikir.
Oke, aku bisa, kata Dicky yakin. Kamu serius, Dick?, tanya Lia. Dicky mengangguk mantap. Oke, kalau gitu, aku ikut, sahut Lia. Aku juga, kata Conny tiba-tiba. Semua mengangguk dan tersenyum senang.

Mawar Putih Untuk Lia - Part 3 -


       Lia menarik Nina menuju teras depan begitu makan malam selesai. Sorot matanya meminta penjelasan atas apa yang terjadi di rumahnya. Nina hanya tersenyum.Li, aku tau kamu sebenarnya mempunyai perasaan terhadap Dicky, tapi kamu hanya takut, kamu masih takut untuk membuka hati. Li, kamu gak bisa terus-terusan kayak gini, kamu harus terusin hidup kamu. Kakak pasti sedih kalau liat kamu masih tetep kayak gini, karena itu aku sengaja ngundang si Dicky waktu aku tau kalau dia sayang sama kamu kata Nina
Tapi aku aku takut Nin, aku takut kalo dia sama seperti laki-laki lain yang menuntut aku untuk ngebuang semua memori tentang Ega, kamu tau aku gak akan bisa nglakuin itu, kata Lia sambil terisak
iya Li, aku tau itu, tapi kita juga gak akan tau kebenarannya kalau kamu gak berani mencoba, gak ada salahnya kamu memberi kesempatan Dicky untuk membuktikannya, kata Nina sambil memeluk Lia. jujur sama hati kamu, ikutin kata hati kamu, kalau kamu memang sayang Dicky, perjuangkan itu, buka hati kamu. Aku nglakuin ini karena aku sayang kamu, Li. Aku ingin Lia yang dulu kembali lagi, kata Nina lagi. sekarang hapus air mata kamu, dan temui Dicky, dia ada di gazebo taman belakang, kata Nina sambil mengusap air mata Lia. Lia mengangguk dan tersenyum. Thanks Nina, kata Lia. anytime, balas Nina sembari tersenyum.
        Lia berjalan menuju gazebo taman belakang seperti yang di beritahukan Nina, benar saja Dicky menanti di situ. Dia duduk seperti menanti sesuatu. Mungkin seseorang lebih tepatnya. Lia menghampiri Dicky yang termenung.
Hai sapa Lia membuyarkan lamunan Dicky.
Eh, Li. Ehhm... Hai juga, kata Dicky terkejut.
Sori ngagetin ya? Kamu ngapain di sini? Gak di dalem aja sama yang lain?, tanya Lia.
iya dikit ngagetin, hehe. Eehmm.. aku di sini aja, pengen nikmatin udara katanya gugup
sorry kalo ngagetin kamu. Tadi di cari ayah taunya kamu di sini
Iya, tar aku ke dalam, jawab Dicky. Oke, aku ke dalam dulu ya, kata Lia.
Eh, Li, tunggu, kata Dicky tiba-tiba menarik tangan Lia. Lia menoleh.
Aku mau kasih ini ke kamu, happy Valentine ya, kata Dicky sembari memberikan sebuah kotak berbentuk persegi panjang. Lia menerimanya dengan pandangan penuh tanya, lalu membuka kotak itu. Dia terkesiap, darahnya berdesir ketika melihat isi kotak itu. Sebuah kalung perak dengan liontin berbentuk hati yang terukir huruf L di tengahnya. Dia menatap Dicky dengan sorot mata penuh tanya.
Itu untuk kamu, sengaja aku pesan dengan inisial nama kamu. Aku sayang kamu Li, aku tulus sayang sama kamu kata Dicky
Dicky, maaf, aku gak bisa terima ini semua, kata Lia sambil menyodorkan kotak itu.
ambil saja, itu buat kamu, meskipun kamu gak mau terima aku. Kalung itu tetap buat kamu. Aku Cuma pengen kamu tau kalau aku sayang sama kamu, dan aku gak pengen menyesal karena terlambat mengatakannya. Boleh aku tau alasannya kenapa kamu gak bisa terima aku?, tanya Dicky. Dia terlihat tenang, namun kesedihan terpancar dari sorot matanya.
Aku gak bisa karena.. karena..
Karena kamu takut aku seperti laki-laki lain yang memaksa kamu melupakan Ega, dan memaksa kamu membuang memori tentang Ega?, sahut Dicky memotong ucapan Lia. Lia tertunduk, air matanya seketika mengalir. Dicky berjalan menghampirinya, dan mengusap air matanya.
Gak Li, kamu salah. Aku gak akan memaksa kamu melupakan Ega, aku gak akan memaksa kamu untuk membuang semua memori tentang Ega. Aku tau betapa berartinya Ega buat kamu. Aku gak apa kalau harus mendiami sebagian kecil hati kamu, sisa bagian Ega, aku gak masalah hidup di balik bayang-bayang Ega, aku Cuma pengen kamu tau bahwa aku tulus sayang sama kamu, Lia
Lia menatap Dicky, air matanya semakin deras mengalir. Ya Tuhan, apa dia orang yang Kau kirim? Ega, apakah Dicky orangnya? Tanyanya dalam hati. Apa kamu yakin sama apa yang kamu katakan?, tanya Lia sambil terisak. Ya, aku yakin, dan aku gak akan pernah menyesal mengatakannya, jawab Dicky, tangannya terulur memberikan sekuntum mawar putih untuk Lia. Lia menatap Dicky mawar putih?, tanyanya terkejut. Mawar putih, bunga kesukaan kamu, aku beri sebagai tanda bahwa aku tulus sama kamu, jawab Dicky sambil tersenyum. Lia tersenyum di balik tangis bahagianya Semoga memang kamu orang yang di kirim Tuhan buat aku. Sejujurnya aku juga sayang kamu, Dicky, kata Lia akhirnya. Dicky tersenyum dan memeluk Lia.

Mawar Putih Untuk Lia - Part 2 -


Mereka bersama turun menuju meja makan. Terlihat di sana semua sudah berkumpul untuk makan malam bersama. Ada Ayah, Bunda, kedua adik Lia, juga ada Ray dan Conny. Semua tersenyum menyambut Lia yang muncul bersama Nina. Makan malam ini terasa begitu menyenangkan. Sejenak Lia bisa melupakan ingatan tentang Ega, dia bisa tertawa lepas jika berkumpul bersama mereka. Lia merasa beruntung memiliki mereka.
Ting tong!
        Suara bel menghentikan sejenak canda mereka, masing-masing bertanya-tanya dalam hati, siapa yang bertamu malam hari begini. Nina berjalan menuju ruang tamu untuk membuka pintu. Agak lama sebelum Nina kembali menuju ruang makan.
Lia, ada yang mau ketemu kamu, kata Nina sembari tersenyum penuh arti.
Siapa?, tanya Lia dengan dahi berkerut, seingatnya dia tak mengundang siapapun selain yang sekarang berada di ruang makan bersamanya.
Nina hanya tersenyum. Dari belakangnya muncul seseorang yang di kenal Lia.
Dicky? Ada perlu apa tiba-tiba kamu datang?, tanya Lia tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
Aku datang karena Nina, dia mengundangku datang., kata Dicky
Surprise! Aku memang sengaja mengundangnya setelah mendengar dia bilang kalau dia pengen ketemu sama kamu Li kata Nina.
Selamat datang di rumah kami, Nak Dicky. Ayo kita makan, kebetulan makan malam belum selesai, kata Ayah Lia tiba-tiba.
        Nina menghampiri Dicky dan mengajaknya duduk untuk makan bersama, duduk di satu-satunya kursi yang ternyata memang sengaja dia sediakan untuk Dicky, kursi di samping Lia. Mereka melanjutkan makan dengan gembira, sesekali ayah dan bunda Lia mengajak Dicky bercanda, begitu juga Ray dan Nina yang sesekali menggoda mereka berdua. Lia hanya tersenyum, begitu juga Dicky hanya tersenyum dan menjawab seadanya. Sepertinya dia belum terbiasa dengan suasana rumah ini.

Mawar Putih Untuk Lia - Part 1 -


Hari mulai gelap, sang mentari beringsut di balik awan, sang purnama tersenyum pancarkan kilaunya, bersama bintang mungil nan indah mereka menerangi malam bak lilin di tengah kegelapan. Membuat damai setiap mata yang memandangnya.
Seorang gadis termenung menatap langit dari jendela kamarnya. Lia, begitu orang-orang memanggilnya. Dia termenung, entah memikirkan apa, pikirannya melayang enta ke mana. Malam ini malam valentine, seharusnya dia berkumpul bersama keluarga dan beberapa teman dekatnya untuk makan malam bersama, namun
enggan rasanya beranjak. Bukan malam yang menahannya, bukan malas, bukan pula kantuk. Namun sang bintang yang menahannya. Mengingatkannya pada seseorang yang pernah singgah di relung hatinya. Ega, ya Ega. Bintang membuatnya teringat pada kata terakhir Ega sebelum dia pergi, kata-kata yang dia ucapkan di tempat favorit mereka di bukit cahaya, sebelum Ega kembali pulang ke kotanya di Kebumen, Lia masih mengingatnya dengan jelas kata-kata itu Suatu saat kalau aku pergi, kamu lihat ke langit, aku ada bersama bintang, aku akan selalu nemeni kamu, jadi cahaya kamu, dan aku gak akan ninggalin kamu
Lia menatap bola kristal yang dia pegang, pemberian Ega di hari ulang tahunnya yang ke 19. Tak terasa setahun sudah Ega, laki-laki yang di cintainya pergi meninggalkan dunia. Setahun pula hatinya terasa kosong. Bukan karena tak ada laki-laki yang mau dengannya, tidak, justru banyak lelaki yang mencoba mendekatinya, namun dia tolak dengan halus. Bukan dia tidak mau, jujur beberapa dari mereka bisa membuat Lia nyaman, namun belum ada yang bisa menggantikan posisi Ega. Bahkan beberapa memaksanya untuk membuang semua memori tentang Ega hingga tak ada satu memori pun yang tersisa. Lia tak mau itu terjadi. Karena itu sampai hari ini dia memutuskan untuk sendiri. 
Lia, ayo turun, semua udah nunggu di bawah Nina muncul membuyarkan lamunannya. Lia mengangguk.

Inget kakak lagi ya?, tanya Nina ketika melihat bola kristal yang ada di genggaman Lia. Lia hanya tersenyum. Nina menghela napas dan menghampiri Lia, memeluknya.
Everything will be okay, bisik Nina sambil tersenyum

8 Januari 2013

Hidup Itu...

Hidup?
Apa itu hidup?
Hidup itu bernapas, bekerja, bermain
sekolah, berkumpul bersama
Ya itu memang hidup
Tapi,
Apa arti hidup yang sebenarnya?


Hidup itu bukan tentang harta
Hidup itu bukan tentang berapa banyak hartamu
Bukan tentang seberapa populer kamu
Bukan tentang barang apa yang kamu punya
Bukan tentang apa yang kamu pakai, brand apa yang kamu pakai

Hidup itu bukan tentang kamu sudah punya pacar atau blm
Hidup itu bukan tentang siapa cowok/cewek kamu
Seberapa ganteng/cantik dia, seberapa kaya dia
Hidup itu bukan tentang seberapa cantik, gantengny kamu
Hidup bukan tentang nilai yang kamu dapat di sekolah, IP yang kamu dapat
Hidup bukan tentang warisan yang kamu dapat
Bukan tentang apa jabatan kamu
Bukan tentang bagaimana karier kamu
Bukan tentang seberapa banyak uang yang dapat kamu hasilkan
Bukan tentang persainganmu dengan teman, kerabat, dan rival bisnis

Tetap hidup itu tentang hatimu, apa yang kamu rasakan
Tentang bagaimana kamu bisa tersenyum
dari lubuk hati kamu
bagaimana kamu bisa menghargai diri kamu sendiri
Tentang bagaimana kamu bisa menjadi diri kamu sendiri
Tanpa membuatmu berpura-pura menjadi orang lain
demi mendapatkan seorang teman
Hidup itu tentang bagaimana kamu bisa memaafkan
Bagaimana kamu memberi dengan tulus
Bagaimana kamu membuat semuanya indah
Bagaimana kamu bersikap baik dengan orang
Menghargai orang lain
Bagaimana kamu memaknai hidupmu sendiri
Bagaimana kamu bisa membuat orang lain tersenyum
Bagaimana kamu bisa membuat orang lain bahagia
dengan memberikan semua yang terbaik yang bisa kamu lakukan

Hidup seumpama seorang pelukis yang sedang melukis
Awalny hanya sebuah sketsa yang kita lihat berantakan, namun dengan kuas dan cat maka gmbar yg berantakan akan menjadi indah
Kita merasa hidup kita sulit, berantakan, dan tidak karuan
Namun jika kita menyikapi semua itu dengan kesabaran, kebaikan dan ketulusan yg kita miliki maka hidup kita akan menjadi lebih indah tanpa kita sadari

Hidup juga seumpama sebuah sulaman,
Jika kita lihat dari bawah akan terlihat untaian benang yang berantakan, kusut, tak berbentuk, rumit, dan tak berujung
Namun kita lihat dari atas akan terlihat sebuah untaian benang yang, rapi, halus, dan sangat indah

Karena kamu dilahirkan dengan tanpa satu sen pun harta
Maka kamu akan kembali kepada yang empunya hidupmu dengan tanpa harta pula

Jadi, apa makna hidup itu?
Apa arti hidup yang sebenarnya?
Tak ada seorangpun yang tahu